Alhamdulillah. Segala puji-pujian hanya layak untuk Allah s.w.t. sahaja. Salam dan selawat ke atas junjungan besar Nabi Muhammad s.a.w. serta keluarganya.
Insya-Allah dalam 2-3 siri yang akan datang kita akan belajar dari hadis-hadis mengenai Lailatul-Qadr kerana lebih kurang seminggu sahaja lagi kita akan berada di dalam 10 hari terakhir Bulan Ramadhan Al-Mubarak.
Dari Hazrat Abu Hurairah r.a., berkata Rasulullah s.a.w. telah bersabda:
“Sesiapa yang berdiri beribadat di malam Lailatul-Qadr dengan iman dan ihtisab (berniat untuk mendapatkan ganjaran) akan diampunkan dosanya yang terdahuluâ€.
Huraian Ringkas
Maksud berdiri beribadat ialah mendirikan solat. Termasuk di dalam hukum itu juga ialah sibuk dengan lain-lain ibadat seperti tilawah Al-Quran, zikir dan lain-lain. Maksud ' mengharapkan ganjaran ' ialah tidak berdiri kerana menunjuk-nunjuk dan lain-lain niat yang buruk bahkan dengan penuh ikhlas berdiri semata-mata untuk mendapatkan keredhaan Allah s.w.t. dan juga dengan niat untuk mendapatkan ganjaran. Khattabi rah. berkata bahawa maksudnya ialah dengan meyakinkan ganjaran yang akan didapati seseorang berdiri dengan hati yang gembira bukannya dengan merasakan ianya sebagai beban lantas berdiri dengan perasaan yang malas. Sememangnya satu perkara yang jelas terbentang bahawa setakat mana kuatnya keyakinan dan kepercayaan terhadap ganjaran pahala, sebanyak itulah mudah untuk menanggung segala kesusahan di dalam beribadat. Inilah sebabnya sejauh mana seseorang itu maju dalam menghampirkan dirinya kepada Allah s.w.t. sebanyak itulah dia lebih bersungguh-sungguh di dalam ibadat.
Perlu juga dimaklumi bahawa yang dimaksudkan dengan dosa di dalam hadis di atas dan hadis-hadis seumpamanya ialah dosa-dosa kecil kerana di dalam Al-Quran,bila sahaja dosa besar disebutkan maka bersamanya disebutkan juga - kecuali mereka yang bertaubat. Berdasarkan perkara inilah, para ulama telah sepakat ( ijma' ) bahawa dosa besar tidak akan diampunkan tanpa bertaubat. Jadi bila sahaja dosa disebutkan di dalam hadis maka para ulama mengkhususkannya dengan dosa kecil sahaja.
Semoga Allah s.w.t. menerima segala amalan baik kita, Inya-Allah.
Adab dan Doa Ziarah Kubur
Sekitar Persoalan Penghuni kubur
Rasulullah saw bersabda:
“Berilah hadiah mayat-mayatmu.” Kemudian kami (sahabat) bertanya: Apa hadiah untuk mayat? Beliau menjawab: “Sedekah dan doa.” (Mafatihul Jinan, pasal 10, hlm 570)
Rasulullah saw bersabda:
“Sesungguhnya setiap Jum’at arwah orang-orang mukmin datang ke langit dunia vertikal dengan rumah mereka, seraya masing-masing mereka memanggil dengan suara yang sedih sambil menangis: wahai keluargaku, anak-anakku, ayahku dan ibuku, kerabatku, sayangi kami niscaya Allah menyayangi kalian dengan hadiah yang kalian berikan pada kami. Celaka kami (karena harta kami), kami yang dihisab, orang lain yang mengambil manfaat.”
Dalam hadis yang lain Rasulullah saw bersabda:
“Masing-masing mereka memanggil kerabatnya: Sayangi kami dengan dirham atau roti atau pakaian, niscaya Allah menyayangi kalian dengan pakaian dari surga.” Kemudian Rasulullah saw menangis. Kami (sahabat) pun ikut menangis, Rasulullah saw tak kuasa berbicara karena banyaknya menangis. Kemudian beliau bersabda: “Mereka itu adalah saudara kalian dalam agama, mereka hancur menjadi tanah setelah mereka (di dunia) diliputi kesenangan dan kenikmatan. Mereka memanggil dengan seruan: “Celaka kami, sekiranya kami dulu menginfakkan harta kami di jalan ketaatan kepada Allah dan ridha-Nya, niscaya kami tidak butuh pada kalian.” Lalu mereka pulang dengan kerugian dan penyesalan, dan mereka berseru: Cepatlah kalian bersedekah untuk mayit kalian.”
Muhammad bin Muslim pernah bertanya kepada Imam Ja’far Ash-Shadiq (sa): Bolehkah kami berziarah pada orang-orang yang telah meningga? Beliau menjawab: Boleh. Kemudian aku bertanya lagi: Apakah mereka mengenal kami ketika kami berziarah kepada mereka? Beliau menjawab: “Demi Allah, mereka mengenal kalian, mereka bahagia dan terhibur dengan kehadiran kalian.” Aku bertanya lagi: Apa yang harus kami baca ketika kami berziarah kepada mereka? Beliau menjawab: bacalah doa ini.
(lihat doa berikutnya)
Imam Musa Al-Kazhim (sa) berkata:
“Barangsiapa yang tidak mampu berziarah kepada kami (Ahlul bait), maka hendaknya berziarah pada orang-orang shaleh yang berwilayah kepada kami, maka akan dicatat baginya seperti pahala berziarah kepada kami; dan barangsiapa yang tidak mampu menyambung silaturahim pada kami, maka hendaknya menyambung silaturahim pada orang-orang shaleh yang berwilayah kepada kami, maka akan dicatat baginya seperti pahala menyambung silaturahim pada kami.”
Imam Ali Ar-Ridha (sa) berkata:
“Barangsiapa yang mendatangi kuburan saudaranya yang mukmin, kemudian meletakkan tangannya pada kuburannya, dan membaca surat Al-Qadar (7 kali), maka ia akan diselamatkan pada hari kiamat.” Dalam hadis yang lain disebutkan: “dan menghadap ke kiblat.”
Syeikh Abbas Al-Qumi (ra) mengatakan: Pahala bacaan surat tersebut untuk orang yang membacanya, juga untuk penghuni kubur yang diziarahi. Karena hal ini dikuatkan oleh hadis-hadis yang lain.
Makruh Ziarah kubur di malam hari
Tentang makruhnya ziarah ke kuburan orang-orang mukmin di malam hari, Rasulullah saw bersabda kepada Abu Dzar: “Jangan sekali-kali kamu berziarah kepada mereka di malam hari.”
Adab dan doa ziarah kubur
Pertama: Ketika memasuki areal kuburan mengucapkan salam.
Abdullah bin Sinan pernah bertanya kepada Imam Ja’far Ash-Shadiq (sa): Bagaimana cara mengucapkan salam kepada penghuni kubur? Beliau menjawab: Ucapkan:
اَلسَّلاَمُ عَلَى اَهلِ الدِّيَارِ مِنَ الْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُسْلِمِيْنَ اَنْتُمْ لَنَا فَرْطٌ وَنَحْنُ اِنْ شَآءَ اللهُ بِكُمْ لاَحِقُوْنَ
Assalâmu ‘alâ ahlid diyâr, minal mu’minîna wal muslimîn, antum lanâ farthun, wa nahnu insyâallâhu bikum lâhiqûn.
Salam atas para penghuni kubur, mukminin dan muslimin, engkau telah mendahului kami, dan insya Allah kami akan menyusulmu.
Atau mengucapkan salam seperti yang diajarkan oleh Imam Ali bin Abi Thalib (sa):
اَلسَّلاَمُ عَلَى اَهْلِ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ مِنْ اَهْلِ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ، يَا اَهْلَ لاَ اِلَهَ اِلاَّ بِحَقِّ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ كَيْفَ وَجَدْتُمْ قَوْلَ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ مِنْ لاَاِلَهَ اِلاَّ اللهُ، يَا لاَاِلَهَ اِلاَّ اللهُ بِحَقِّ لاَاِلَهَ اِلاَّ اللهُ اِغْفِـرْ لِمَنْ قَالَ لاَاِلَهَ اِلاَّ اللهُ، وَاحْشَـرْنَا فِي زُمْرَةِ مَنْ قَالَ لاَاِلَهَ اِلاَّ اللهُ مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللهِ عَلِيٌّ وَلِيُّ اللهِ
Assâlamu ‘alâ ahli lâ ilâha illallâh min ahli lâ ilâha illallâh , ya ahla lâ ilâha illallâh bihaqqi lâ ilâha illallâh kayfa wajadtum qawla lâ ilâha illallâh min lâ ilâha illallâh, ya lâ ilâha illallâh bihaqqi lâ ilâha illallâh ighfir liman qâla lâ ilâha illallâh, wahsyurnâ fî zumrati man qâla lâ ilâha illallâh Muhammadun Rasûlullâh ‘Aliyyun waliyullâh.
Salam bagi yang mengucapkan la ilaha illallah dari yang mengucapkan la ilaha illallah, wahai yang mengucapkan kalimah la ilaha illallah dengan hak la ilaha illallah, bagaimana kamu memperoleh kalimah la ilaha illallah dari la ilaha illallah, wahai la ilaha illallah dengan hak la ilaha illallah ampuni orang yang membaca kalimah la ilaha illallah, dan himpunlah kami ke dalam golongan orang yang mengu¬cap¬kan la ilaha illallah Muhammadur rasululullah Aliyyun waliyyullah.
Imam Ali bin Abi Thalib (sa) berkata: “Barangsiapa yang memasuki areal kuburan, lalu mengucapkan (salam tersebut), Allah memberinya pahala kebaikan 50 tahun, dan mengampuni dosanya serta dosa kedua orang tuanya 50 tahun.”
Kedua: membaca:
1. Surat Al-Qadar (7 kali),
2. Surat Al-Fatihah (3 kali),
3. Surat Al-Falaq (3 kali),
4. Surat An-Nas (3 kali),
5. Surat Al-Ikhlash (3 kali),
6. Ayat Kursi (3 kali).
Dalam suatu hadis disebutkan: “Barangsiapa yang membaca surat Al-Qadar (7 kali) di kuburan seorang mukmin, Allah mengutus malaikat padanya untuk beribadah di dekat kuburannya, dan mencatat bagi si mayit pahala dari ibadah yang dilakukan oleh malaikat itu sehingga Allah memasukkan ia ke surga. Dan dalam membaca surat Al-Qadar disertai surat Al-Falaq, An-Nas, Al-Ikhlash dan Ayat kursi, masing-masing (3 kali).”
Ketiga: Membaca doa berikut ini (3 kali):
اَللَّهُمَّ اِنِّي اَسْئَلُكَ بِحَقِّ مُحَمَّدٍ وَآلِ مُحَمَّدٍ اَنْ لاَتُعَذِّبَ هَذَا الْمَيِّتِ
Allâhumma innî as-aluka bihaqqi Muhammadin wa âli Muhammad an lâ tu’adzdziba hâdzal may¬yit.
Ya Allah, aku memohon pada-Mu dengan hak Muhammad dan keluarga Muhammad janganlah azab penghuni kubur ini.
Rasulullah saw bersabda:
“Tidak ada seorang pun yang membaca doa tersebut (3 kali) di kuburan seorang mayit, kecuali Allah menjauhkan darinya azab hari kiamat.”
Keempat: Meletakkan tangan di kuburannya sambil membaca doa berikut:
اَللَّهُمَّ ارْحَمْ غُرْبَتَهُ، وَصِلْ وَحْدَتَهُ، وَاَنِسْ وَحْشَتَهُ، وَاَمِنْ رَوْعَتَهُ، وَاَسْكِنْ اِلَيْهِ مِنْ رَحْمَتِكَ يَسْـتَغْنِي بِهَا عَنْ رَحْمَةٍ مِنْ سِوَاكَ، وَاَلْحِقْهُ بِمَنْ كَانَ يَتَوَلاَّهُ
Allâhumarham ghurbatahu, wa shil wahdatahu, wa anis wahsyatahu, wa amin raw‘atahu, wa askin ilayhi min rahmatika yastaghnî bihâ ‘an rahmatin min siwâka, wa alhiqhu biman kâma yatawallâhu.
Ya Allah, kasihi keterasingannya, sambungkan kesendiriannya, hiburlah kesepiannya, tenteramkan kekhawatirannya, tenangkan ia dengan rahmat-Mu yang dengannya tidak membutuhkan kasih sayang dari selain-Mu, dan susulkan ia kepada orang yang ia cintai.
Ibnu Thawus mengatakan: Jika kamu hendak berziarah ke kuburan orang-orang mukmin, maka hendaknya hari Kamis, jika tidak, maka waktu tertentu yang kamu kehendaki, menghadap ke kiblat sambil meletakkan tangan pada kuburannya dan membaca doa tersebut.
Muhammad bin Muslim pernah bertanya kepada Imam Ja’far Ash-Shadiq (sa): Bolehkah kami berziarah ke orang-orang yang telah meningga? Beliau menjawab: Boleh. Kemudian aku bertanya lagi: Apakah mereka mengenal kami ketika kami berziarah kepada mereka? Beliau menjawab: “Demi Allah, mereka mengenal kalian, mereka bahagia dan terhibur dengan kehadiran kalian.” Aku bertanya lagi: Apa yang baca ketika kami berziarah kepada mereka? Beliau menjawab: bacalah doa ini:
اللَّهُمَّ جَافِ اْلاَرْضَ عَنْ جُنُوبِهِمْ وَ صَاعِدْ إِلَيْكَ أَرْوَاحَهُمْ وَ لَقِّهِمْ مِنْكَ رِضْوَانًا وَ أَسْكِنْ إِلَيْهِمْ مِنْ رَحْمَتِكَ مَا تَصِلُ بِهِ وَحْدَتَهُمْ وَ تُونِسُ بِهِ وَحْشَتَهُمْ إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
Allâhumma jâfil ardha ‘an junûbihim, wa shâ’id ilayka arwâhahum, wa laqqihim minka ridhwânâ, wa askin ilayhim mir rahmatika mâ tashilu bihi wahdatahum, wa tûnisu bihi wahsyatahum, innaka ‘alâ kulli syay-in qadîr.
Ya Allah, luaskan kuburan mereka, muliakan arwah mereka, sampaikan mereka pada ridha-Mu, tenteramkan mereka dengan rahmat-Mu, rahmat yang menyambungkan kesendirian mereka, yang menghibur kesepian mereka. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.
(Disarikan dari kitab Mafatihul Jinan, pasal 10, hlm 567-570)
Rasulullah saw bersabda:
“Berilah hadiah mayat-mayatmu.” Kemudian kami (sahabat) bertanya: Apa hadiah untuk mayat? Beliau menjawab: “Sedekah dan doa.” (Mafatihul Jinan, pasal 10, hlm 570)
Rasulullah saw bersabda:
“Sesungguhnya setiap Jum’at arwah orang-orang mukmin datang ke langit dunia vertikal dengan rumah mereka, seraya masing-masing mereka memanggil dengan suara yang sedih sambil menangis: wahai keluargaku, anak-anakku, ayahku dan ibuku, kerabatku, sayangi kami niscaya Allah menyayangi kalian dengan hadiah yang kalian berikan pada kami. Celaka kami (karena harta kami), kami yang dihisab, orang lain yang mengambil manfaat.”
Dalam hadis yang lain Rasulullah saw bersabda:
“Masing-masing mereka memanggil kerabatnya: Sayangi kami dengan dirham atau roti atau pakaian, niscaya Allah menyayangi kalian dengan pakaian dari surga.” Kemudian Rasulullah saw menangis. Kami (sahabat) pun ikut menangis, Rasulullah saw tak kuasa berbicara karena banyaknya menangis. Kemudian beliau bersabda: “Mereka itu adalah saudara kalian dalam agama, mereka hancur menjadi tanah setelah mereka (di dunia) diliputi kesenangan dan kenikmatan. Mereka memanggil dengan seruan: “Celaka kami, sekiranya kami dulu menginfakkan harta kami di jalan ketaatan kepada Allah dan ridha-Nya, niscaya kami tidak butuh pada kalian.” Lalu mereka pulang dengan kerugian dan penyesalan, dan mereka berseru: Cepatlah kalian bersedekah untuk mayit kalian.”
Muhammad bin Muslim pernah bertanya kepada Imam Ja’far Ash-Shadiq (sa): Bolehkah kami berziarah pada orang-orang yang telah meningga? Beliau menjawab: Boleh. Kemudian aku bertanya lagi: Apakah mereka mengenal kami ketika kami berziarah kepada mereka? Beliau menjawab: “Demi Allah, mereka mengenal kalian, mereka bahagia dan terhibur dengan kehadiran kalian.” Aku bertanya lagi: Apa yang harus kami baca ketika kami berziarah kepada mereka? Beliau menjawab: bacalah doa ini.
(lihat doa berikutnya)
Imam Musa Al-Kazhim (sa) berkata:
“Barangsiapa yang tidak mampu berziarah kepada kami (Ahlul bait), maka hendaknya berziarah pada orang-orang shaleh yang berwilayah kepada kami, maka akan dicatat baginya seperti pahala berziarah kepada kami; dan barangsiapa yang tidak mampu menyambung silaturahim pada kami, maka hendaknya menyambung silaturahim pada orang-orang shaleh yang berwilayah kepada kami, maka akan dicatat baginya seperti pahala menyambung silaturahim pada kami.”
Imam Ali Ar-Ridha (sa) berkata:
“Barangsiapa yang mendatangi kuburan saudaranya yang mukmin, kemudian meletakkan tangannya pada kuburannya, dan membaca surat Al-Qadar (7 kali), maka ia akan diselamatkan pada hari kiamat.” Dalam hadis yang lain disebutkan: “dan menghadap ke kiblat.”
Syeikh Abbas Al-Qumi (ra) mengatakan: Pahala bacaan surat tersebut untuk orang yang membacanya, juga untuk penghuni kubur yang diziarahi. Karena hal ini dikuatkan oleh hadis-hadis yang lain.
Makruh Ziarah kubur di malam hari
Tentang makruhnya ziarah ke kuburan orang-orang mukmin di malam hari, Rasulullah saw bersabda kepada Abu Dzar: “Jangan sekali-kali kamu berziarah kepada mereka di malam hari.”
Adab dan doa ziarah kubur
Pertama: Ketika memasuki areal kuburan mengucapkan salam.
Abdullah bin Sinan pernah bertanya kepada Imam Ja’far Ash-Shadiq (sa): Bagaimana cara mengucapkan salam kepada penghuni kubur? Beliau menjawab: Ucapkan:
اَلسَّلاَمُ عَلَى اَهلِ الدِّيَارِ مِنَ الْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُسْلِمِيْنَ اَنْتُمْ لَنَا فَرْطٌ وَنَحْنُ اِنْ شَآءَ اللهُ بِكُمْ لاَحِقُوْنَ
Assalâmu ‘alâ ahlid diyâr, minal mu’minîna wal muslimîn, antum lanâ farthun, wa nahnu insyâallâhu bikum lâhiqûn.
Salam atas para penghuni kubur, mukminin dan muslimin, engkau telah mendahului kami, dan insya Allah kami akan menyusulmu.
Atau mengucapkan salam seperti yang diajarkan oleh Imam Ali bin Abi Thalib (sa):
اَلسَّلاَمُ عَلَى اَهْلِ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ مِنْ اَهْلِ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ، يَا اَهْلَ لاَ اِلَهَ اِلاَّ بِحَقِّ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ كَيْفَ وَجَدْتُمْ قَوْلَ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ مِنْ لاَاِلَهَ اِلاَّ اللهُ، يَا لاَاِلَهَ اِلاَّ اللهُ بِحَقِّ لاَاِلَهَ اِلاَّ اللهُ اِغْفِـرْ لِمَنْ قَالَ لاَاِلَهَ اِلاَّ اللهُ، وَاحْشَـرْنَا فِي زُمْرَةِ مَنْ قَالَ لاَاِلَهَ اِلاَّ اللهُ مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللهِ عَلِيٌّ وَلِيُّ اللهِ
Assâlamu ‘alâ ahli lâ ilâha illallâh min ahli lâ ilâha illallâh , ya ahla lâ ilâha illallâh bihaqqi lâ ilâha illallâh kayfa wajadtum qawla lâ ilâha illallâh min lâ ilâha illallâh, ya lâ ilâha illallâh bihaqqi lâ ilâha illallâh ighfir liman qâla lâ ilâha illallâh, wahsyurnâ fî zumrati man qâla lâ ilâha illallâh Muhammadun Rasûlullâh ‘Aliyyun waliyullâh.
Salam bagi yang mengucapkan la ilaha illallah dari yang mengucapkan la ilaha illallah, wahai yang mengucapkan kalimah la ilaha illallah dengan hak la ilaha illallah, bagaimana kamu memperoleh kalimah la ilaha illallah dari la ilaha illallah, wahai la ilaha illallah dengan hak la ilaha illallah ampuni orang yang membaca kalimah la ilaha illallah, dan himpunlah kami ke dalam golongan orang yang mengu¬cap¬kan la ilaha illallah Muhammadur rasululullah Aliyyun waliyyullah.
Imam Ali bin Abi Thalib (sa) berkata: “Barangsiapa yang memasuki areal kuburan, lalu mengucapkan (salam tersebut), Allah memberinya pahala kebaikan 50 tahun, dan mengampuni dosanya serta dosa kedua orang tuanya 50 tahun.”
Kedua: membaca:
1. Surat Al-Qadar (7 kali),
2. Surat Al-Fatihah (3 kali),
3. Surat Al-Falaq (3 kali),
4. Surat An-Nas (3 kali),
5. Surat Al-Ikhlash (3 kali),
6. Ayat Kursi (3 kali).
Dalam suatu hadis disebutkan: “Barangsiapa yang membaca surat Al-Qadar (7 kali) di kuburan seorang mukmin, Allah mengutus malaikat padanya untuk beribadah di dekat kuburannya, dan mencatat bagi si mayit pahala dari ibadah yang dilakukan oleh malaikat itu sehingga Allah memasukkan ia ke surga. Dan dalam membaca surat Al-Qadar disertai surat Al-Falaq, An-Nas, Al-Ikhlash dan Ayat kursi, masing-masing (3 kali).”
Ketiga: Membaca doa berikut ini (3 kali):
اَللَّهُمَّ اِنِّي اَسْئَلُكَ بِحَقِّ مُحَمَّدٍ وَآلِ مُحَمَّدٍ اَنْ لاَتُعَذِّبَ هَذَا الْمَيِّتِ
Allâhumma innî as-aluka bihaqqi Muhammadin wa âli Muhammad an lâ tu’adzdziba hâdzal may¬yit.
Ya Allah, aku memohon pada-Mu dengan hak Muhammad dan keluarga Muhammad janganlah azab penghuni kubur ini.
Rasulullah saw bersabda:
“Tidak ada seorang pun yang membaca doa tersebut (3 kali) di kuburan seorang mayit, kecuali Allah menjauhkan darinya azab hari kiamat.”
Keempat: Meletakkan tangan di kuburannya sambil membaca doa berikut:
اَللَّهُمَّ ارْحَمْ غُرْبَتَهُ، وَصِلْ وَحْدَتَهُ، وَاَنِسْ وَحْشَتَهُ، وَاَمِنْ رَوْعَتَهُ، وَاَسْكِنْ اِلَيْهِ مِنْ رَحْمَتِكَ يَسْـتَغْنِي بِهَا عَنْ رَحْمَةٍ مِنْ سِوَاكَ، وَاَلْحِقْهُ بِمَنْ كَانَ يَتَوَلاَّهُ
Allâhumarham ghurbatahu, wa shil wahdatahu, wa anis wahsyatahu, wa amin raw‘atahu, wa askin ilayhi min rahmatika yastaghnî bihâ ‘an rahmatin min siwâka, wa alhiqhu biman kâma yatawallâhu.
Ya Allah, kasihi keterasingannya, sambungkan kesendiriannya, hiburlah kesepiannya, tenteramkan kekhawatirannya, tenangkan ia dengan rahmat-Mu yang dengannya tidak membutuhkan kasih sayang dari selain-Mu, dan susulkan ia kepada orang yang ia cintai.
Ibnu Thawus mengatakan: Jika kamu hendak berziarah ke kuburan orang-orang mukmin, maka hendaknya hari Kamis, jika tidak, maka waktu tertentu yang kamu kehendaki, menghadap ke kiblat sambil meletakkan tangan pada kuburannya dan membaca doa tersebut.
Muhammad bin Muslim pernah bertanya kepada Imam Ja’far Ash-Shadiq (sa): Bolehkah kami berziarah ke orang-orang yang telah meningga? Beliau menjawab: Boleh. Kemudian aku bertanya lagi: Apakah mereka mengenal kami ketika kami berziarah kepada mereka? Beliau menjawab: “Demi Allah, mereka mengenal kalian, mereka bahagia dan terhibur dengan kehadiran kalian.” Aku bertanya lagi: Apa yang baca ketika kami berziarah kepada mereka? Beliau menjawab: bacalah doa ini:
اللَّهُمَّ جَافِ اْلاَرْضَ عَنْ جُنُوبِهِمْ وَ صَاعِدْ إِلَيْكَ أَرْوَاحَهُمْ وَ لَقِّهِمْ مِنْكَ رِضْوَانًا وَ أَسْكِنْ إِلَيْهِمْ مِنْ رَحْمَتِكَ مَا تَصِلُ بِهِ وَحْدَتَهُمْ وَ تُونِسُ بِهِ وَحْشَتَهُمْ إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
Allâhumma jâfil ardha ‘an junûbihim, wa shâ’id ilayka arwâhahum, wa laqqihim minka ridhwânâ, wa askin ilayhim mir rahmatika mâ tashilu bihi wahdatahum, wa tûnisu bihi wahsyatahum, innaka ‘alâ kulli syay-in qadîr.
Ya Allah, luaskan kuburan mereka, muliakan arwah mereka, sampaikan mereka pada ridha-Mu, tenteramkan mereka dengan rahmat-Mu, rahmat yang menyambungkan kesendirian mereka, yang menghibur kesepian mereka. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.
(Disarikan dari kitab Mafatihul Jinan, pasal 10, hlm 567-570)
Matahari
Matahari dari dekat (5,000 KM)
Imej matahari yang paling jelas diperolehi oleh Royal Swedish Academy Of Science pada 14 nov 2002 melalui Swedish Solar Telescope
Sebagai Renungan:
Diriwayatkan bahawa Rasululallah pernah menceritakan betapa asalnya kejadian api di dunia ini. Setelah nabi adam dihantar ke dunia kerana kesalahanya memakan buah larangan maka Allah swt telah memerintahkan Jibril as supaya mengambil api dari neraka untuk dihantar ke dunia untuk kegunaan nabi adam as. Maka jibril as pun diperintahkan untuk meminta api tersebut daripada malaikat penjaga api neraka iaitu Zabaniah.
Jibril : wahai zabaniah, aku diperintah untuk mengambil sedikit api neraka untuk dihantar ke dunia bagi kegunaan adam as.
Zabaniah : sebanyak mana sedikit itu?
Jibril : sebesar kurma...
Zabaniah : kalau sebesar buah kurma api neraka itu engkau bawa nescaya akan cairlah tujuh
lapis langit dan tujuh lapis bumi akibat kepanasanya.
Jibril : kalau begitu berilah aku sebesar separuh dari buah kurma...
Zabaniah : kalau sebesar separuh buah kurma api neraka ini engkau letakan di dunia nescaya
tidak akan turun walaupun setitik hujan dari langit dan tidak ada suatu pun tumbuhan akan tumbuh di bumi nanti..
Memandangkan keadaan yang rumit ini maka jibril as pun menghadap Allah untuk mendapatkan saiz yang perlu dihantar ke dunia. Allah swt pun memerintahkan supaya jibril mengambil sebesar ZARAH sahaja dari api neraka untuk dibawa ke dunia. Maka jibril as pun mengambil api neraka sebesar zarah dari zabaniah tetapi oleh kerana kepanasan yang keterlaluan api neraka sebesar zarah itu terpaksa disejukan dengan mencelupnya sebanyak 70 kali ke dalam sungai di syurga dan sabanyak 70 buah sungai. = 70 x 70
Selepas itu jibril as pun membawa api itu turun ke dunia dan diletakan di atas sebuah bukit yg tinggi, tetapi sejurus setelah diletakan tiba-tiba bukit itu terus meleleh cair maka cepat-cepat jibril mengambil semula api tersebut dan dihantar semula ke neraka.
Hanya sisa-sisanya sajalah yang terdapat di dunia ini seperti api yang sering kita gunakan untuk
berbegai keperluan dan juga api yang terdapat di gunung berapi dan lain lain lagi.
PENGAJARAN : Bayangkanlah kepanasan api neraka yg sebesar zarah yang terpaksa
disejukan dalam 70 buah sungai dengan sebanyak 70 celup setiap sungai dan hanya sisanya saja
itupun manusia tidak dapat bertahan akan kepanasanya bagaimana dengan api di neraka itu sendiri. SEBESAR ZARAH SAHAJA.
Rasulullah s.a.w. bersabda,
maksudnya : "Sesungguhnya orang yang paling aku kasihi di sisiku ialah seorang mukmin yang keadaannya serba sederhana, tetapi rajin mengerjakan solat (wajib dan sunat), dia baik dalam beribadah kepada Tuhan dan selalu taat kepadaNya secara diam-diam"
(Riwayat Tarmizi)
Rasulullah s.a.w. bersabda
maksudnya : "Sesungguhnya orang yang sangat aku kasihi dan terdekat padaku di hari kiamat ialah yang terbaik budi pekertinya. Dan orang yang sangat aku benci dan terjauh daripadaku pada hari kiamat ialah orang yang banyak bercakap, sombong dalam percakapannya dan berlagak menunjukkan kepandaiannya"
(Riwayat Tarmizi)
Rasulullah s.a.w. bersabda
maksudnya : "Barangsiapa yang bertaubat kepada Allah selagi belum terbit matahari dari arah barat, maka Allah menerima taubatnya"
(Riwayat Muslim)
Rasulullah s.a.w. bersabda
maksudnya : "Ingatlah kepada Allah dalam masa senangmu, nescaya Dia akan mengingatimu di masa susah"
(Al-Hadith)
Rukun haji dan umrah (siri 2)
IBADAT haji dan umrah merupakan satu amalan yang mesti dilakukan oleh setiap Muslim mukalaf yang berkemampuan, sekali dalam seumur hidupnya.
Allah SWT berfirman dalam surah Al-Imran: 97 yang bermaksud: Dan Allah SWT mewajibkan manusia mengerjakan ibadat haji dengan mengunjungi Baitullah iaitu sesiapa yang mampu dan berkuasa sampai kepadanya. Dan sesiapa yang kufur (ingkarkan kewajipan ibadat haji itu) maka sesungguhnya Allah SWT Maha Kaya (tidak berhajat kepada sesuatu pun) daripada sekalian makhluk. Sementara dalam surah al-Baqarah ayat 196 turut menjelaskan yang bermaksud: Dan sempurnakanlah haji dan umrah kerana Allah...
Oleh itu, jelaslah kepada kita bahawa amalan haji dan umrah adalah diwajibkan kepada mereka yang mampu dan cukup syarat-syaratnya. Rezeki yang diberi oleh Allah selalu digunakan untuk keperluan seperti makan, minum dan sebagainya. Elok benar sekiranya rezeki yang melebihi keperluan harian disimpan dan diguna untuk beribadat kepada Allah. Oleh itu, sewajarnya mereka yang diberi rezeki yang lebih oleh Allah untuk menunaikan haji dan umrah.
Ali r.a. berkata Rasulullah bersabda : "Barang siapa ada bekalan dan cukup perbelanjaan untuk menunaikan fardu haji tetapi ia tidak menunaikan fardu haji, maka tidak ada beza baginya mati sebagai Yahudi ataupun Kristian."
Rukun haji dan umrah
Rukun haji atau umrah adalah satu pekerjaan yang mesti dilakukan oleh mereka yang melaksanakan haji atau umrah. Jika tidak ditunaikan, sama ada sengaja atau tidak, maka tidak sah haji atau umrahnya.
Dengan itu, setiap jemaah perlu mempelajari amalan-amalan haji dan umrah dengan sebaik-baiknya. Diingatkan juga para jemaah tidak boleh mengambil mudah perkara ini kerana ia adalah kesempurnaan haji atau umrah.
Jika jemaah tidak laksana rukun-rukun itu atau laksana tetapi tidak sempurna mengikut syarat-syaratnya, maka tidak sah haji atau umrahnya.
Harapan kita untuk laksanakan haji atau umrah bagi dapat pahala, tetapi bukan pahala yang dapat, sebaliknya bala. Sebabnya, kerana tidak laksanakan amalan-amalan rukunnya dengan sempurna. Keadaan ini selalu berlaku kerana kita tidak mahu belajar dan mengambil mudah. Malah ada setengah di kalangan kita menganggap ia seperti pergi melancong ke tempat-tempat bersejarah yang lain.
Salah satu perbezaan amalan haji dan umrah dengan amalan-amalan lain dari segi perlaksaannya, apabila bermula maka ia mestilah diselesaikan amalan-amalan sehingga tahallul jika tidak akan dikenakan dam. Begitu juga berpindah daripada rukun ke rukun lain melainkan telah selesai dan sempurna rukun yang sebelumnya.
RUKUN HAJI
1. Niat ihram haji, 2. Wukuf, 3. Tawaf, 4. Saie, 5. Bergunting/bercukur dan 6. Tertib pada kebanyakan rukun
RUKUN UMRAH
1. Niat ihram umrah, 2. Tawaf, 3. Saie, 4. Bergunting/bercukur dan 5. Tertib
1. Rukun pertama haji dan umrah
l Niat ihram haji
"Sahaja aku mengerjakan haji dan berihram dengannya kerana Allah SWT"
l Niat ihram umrah
"Sahaja aku mengerjakan umrah dan berihram dengannya kerana Allah SWT"
Dengan niat ihram, maka diharamkan ke atas mereka melakukan perkara-perkara yang dilarang dalam masa ihram. Oleh itu, sebelum mereka berniat ihram disunatkan mereka melakukan perkara-perkara seperti berikut: i. Mengerat kuku, ii. Mendandan misai dan rambut, iii. Menanggalkan bulu-bulu ketiak, ari-ari dan sebagainya. iv. Mandi sunat ihram dengan niat "Sahaja aku mandi sunat ihram kerana Allah SWT", v. Mengambil wuduk, vi. Memakai minyak rambut, vii. Memakai kain ihram warna putih, viii. Mendirikan solat sunat ihram
Setelah itu bolehlah berniat ihram serta bertalbiah. Bagi wanita haid dan nifas dibolehkan berniat ihram. Ihram haji atau umrah, sebagaimana Rasulullah SAW bersabda kepada Aisyah r.ha tentang haid. "Engkau buatlah apa sahaja yang dilakukan orang yang mengerjakan haji kecuali tawaf."
2. Rukun kedua haji (tiada pada umrah)
Wuquf di Arafah
Arafah adalah satu padang yang terletak di Wadi Wuranah sebelah Muzdalifah dan dikelilingi bukit pasir yang menghala ke Taif. Jemaah haji perlu berada di sini walaupun seketika dalam sebarang keadaan seperti duduk, berbaring atau tidur bermula dari gelincir matahari (masuk waktu Zuhur) 9 Zulhijjah sehingga sebelum terbit fajar (masuk waktu Subuh) 10 Zulhijjah.
Oleh itu, syarat sah berwuquf, jemaah telah berniat dengan niat haji, jemaah berkeadaan seorang yang layak menunaikan ibadat (tidak gila, pengesan, mabuk dan hilang akal sepanjang masa wuquf) dan jemaah perlu berada di situ walaupun seketika. (dalam waktu wuquf).
3. Rukun ketiga bagi haji dan kedua bagi umrah.
Tawaf haji dan tawaf umrah
Mengelilingi kaabah sebanyak tujuh kali dengan syarat-syaratnya seperti berikut: i. Berwuduk (suci daripada hadas besar dan kecil), ii. Menutup aurat, iii. Suci badan, pakaian dan tempat tawaf daripada najis, iv. Bermula dan berakhir di sudut Hajarul Aswad, v. Menjadikan kaabah di sebelah kiri dan berjalan ke hadapan, vi. Dilakukan dalam Masjidil Haram dan di luar binaan kaabah, Hijir Ismail dan Syazarwan, vii. Tetap niat tawaf sepanjang masa tawaf, viii. Cukup tujuh pusingan dengan yakin.
Dalam isu batal wuduk semasa mengerjakan tawaf, maslahat jemaah haji dijamin, masyaqquh dan haraj mereka seperti kesesakan di tempat tawaf yang boleh menyebabkan berlaku persentuhan lelaki dan perempuan, ia dapat dihindarkan dengan beralih daripada pendapat Syafie yang masyhur dan berpegang kepada pendapat marjuh dalam Mazhab Syafie.
Jemaah haji boleh menggunakan pendapat yang menyatakan tidak batal wuduk jika berlaku persentuhan lelaki dan perempuan tanpa syahwat. (Muzakarah Haji Kali 21. 5-7 Jun 2005)
Niat untuk tawaf haji atau umrah, tidak perlu niat kerana niat tawaf telah termasuk dalam niat ihram haji atau umrah. Jika jemaah hendak niat juga, tidak mengapa. Niat tawaf lain seperti tawaf qudum (selamat datang), tawaf sunat, tawaf wada (selamat tinggal), tawaf nazar, tawaf tahyatubait perlu kepada niat. Niat itu sebelum daripada memulakan tawaf.
4. Rukun keempat bagi haji dan ketiga bagi umrah
Saie
Saie yang diertikan ialah berulang alik di antara Bukit Safa dan Marwah sebanyak tujuh kali dengan syarat-syarat sah. Syarat sah saie ialah; (1) Dilakukan selepas tawaf rukun atau tawaf qudum, (2) Bermula di Bukit Safa dan berakhir di Bukit Marwah, (3) Cukup tujuh kali dengan yakin dikira sekali daripada Safa ke Marwah dan sekali daripada Marwah ke Safa, (4) Hendaklah sampai ke penghujung tempat saie di Safa dan di Marwah, (5) Hendaklah saie di Battnuwadi (iaitu kawasan yang telah ditetapkan oleh syarak untuk saie), (6) Tidak berniat lain yang memesongkan tujuan saie.
Dalam Muzakarah Haji Ke-25 telah menetapkan bahawa sah mengerjakan saie di tempat saie yang telah diperbesarkan. Pelebaran itu telah dilaksanakan pada musim haji 1429H.
5. Rukun kelima bagi haji dan keempat bagi umrah
Bergunting/bercukur
Bergunting atau bercukur membawa pengertian ialah menanggalkan sekurang-kurangnya tiga helai rambut di kepala dengan menurut syarat-syarat sahnya; i. Telah masuk waktu
(Bergunting/ bercukur untuk haji bermula tengah malam 10 Zulhijjah)
(waktu bergunting/bercukur umrah ialah setelah selesai saie umrah), ii. Rambut di kepala, iii. Tidak kurang daripada tiga helai rambut.
Ibadat haji ada dua Tahallul iaitu Tahallul Awal dan Tahallul Thani. Tahallul Awal terhasil apabila jemaah haji selesai mengerjakan dua daripada tiga perkara berikut: i. Melontar jamrah kubra (10 Zulhijjah) masa melontar bermula tengah malam 10 Zulhijjah hingga terbenam matahari 13 Zulhijjah, ii. Bergunting/bercukur , iii. Tawaf rukun dan saie rukun.
Tahallul Thani dikira selesai apabila jemaah melakukan ketiga-tiga perkara tersebut. Dengan itu dapatlah kita fahami bahawa bertahallul itu, terhasil bukan saja dengan bergunting/bercukur rambut. Begitu juga boleh bergunting rambut orang lain sebelum ia menggunting rambutnya.
Cuma afdalnya ia bergunting atau bercukur bagi dirinya terlebih dahulu sebelum ia mencukur/mengguntin g orang lain. Sah juga ia mencabut rambut di kepala tanpa berguting. Boleh gunting rambut di mana-mana bahagian rambut tidak semestinya di pangkal rambut.
6. Rukun keenam bagi haji (tertib pada kebanyakan rukun) rukun kelima bagi umrah (Tertib)
Haji - Tertib Pada Kebanyakan Rukun
Rukun haji dikerjakan dengan tertib pada kebanyakan rukun iaitu didahulukan niat ihram dan rukun-rukun yang lain didahulukan wukuf dari tawaf ifadah dan didahulukan tawaf dari saie. Saie haji boleh mendahului wukuf dengan syarat telah melakukan Tawaf Qudum, begitu juga bercukur/bergunting boleh mendahului tawaf jika telah masuk waktunya.
Umrah - Tertib
Melaksanakan rukun umrah satu persatu iaitu yang dahulu didahulukan.
Allah SWT berfirman dalam surah Al-Imran: 97 yang bermaksud: Dan Allah SWT mewajibkan manusia mengerjakan ibadat haji dengan mengunjungi Baitullah iaitu sesiapa yang mampu dan berkuasa sampai kepadanya. Dan sesiapa yang kufur (ingkarkan kewajipan ibadat haji itu) maka sesungguhnya Allah SWT Maha Kaya (tidak berhajat kepada sesuatu pun) daripada sekalian makhluk. Sementara dalam surah al-Baqarah ayat 196 turut menjelaskan yang bermaksud: Dan sempurnakanlah haji dan umrah kerana Allah...
Oleh itu, jelaslah kepada kita bahawa amalan haji dan umrah adalah diwajibkan kepada mereka yang mampu dan cukup syarat-syaratnya. Rezeki yang diberi oleh Allah selalu digunakan untuk keperluan seperti makan, minum dan sebagainya. Elok benar sekiranya rezeki yang melebihi keperluan harian disimpan dan diguna untuk beribadat kepada Allah. Oleh itu, sewajarnya mereka yang diberi rezeki yang lebih oleh Allah untuk menunaikan haji dan umrah.
Ali r.a. berkata Rasulullah bersabda : "Barang siapa ada bekalan dan cukup perbelanjaan untuk menunaikan fardu haji tetapi ia tidak menunaikan fardu haji, maka tidak ada beza baginya mati sebagai Yahudi ataupun Kristian."
Rukun haji dan umrah
Rukun haji atau umrah adalah satu pekerjaan yang mesti dilakukan oleh mereka yang melaksanakan haji atau umrah. Jika tidak ditunaikan, sama ada sengaja atau tidak, maka tidak sah haji atau umrahnya.
Dengan itu, setiap jemaah perlu mempelajari amalan-amalan haji dan umrah dengan sebaik-baiknya. Diingatkan juga para jemaah tidak boleh mengambil mudah perkara ini kerana ia adalah kesempurnaan haji atau umrah.
Jika jemaah tidak laksana rukun-rukun itu atau laksana tetapi tidak sempurna mengikut syarat-syaratnya, maka tidak sah haji atau umrahnya.
Harapan kita untuk laksanakan haji atau umrah bagi dapat pahala, tetapi bukan pahala yang dapat, sebaliknya bala. Sebabnya, kerana tidak laksanakan amalan-amalan rukunnya dengan sempurna. Keadaan ini selalu berlaku kerana kita tidak mahu belajar dan mengambil mudah. Malah ada setengah di kalangan kita menganggap ia seperti pergi melancong ke tempat-tempat bersejarah yang lain.
Salah satu perbezaan amalan haji dan umrah dengan amalan-amalan lain dari segi perlaksaannya, apabila bermula maka ia mestilah diselesaikan amalan-amalan sehingga tahallul jika tidak akan dikenakan dam. Begitu juga berpindah daripada rukun ke rukun lain melainkan telah selesai dan sempurna rukun yang sebelumnya.
RUKUN HAJI
1. Niat ihram haji, 2. Wukuf, 3. Tawaf, 4. Saie, 5. Bergunting/bercukur dan 6. Tertib pada kebanyakan rukun
RUKUN UMRAH
1. Niat ihram umrah, 2. Tawaf, 3. Saie, 4. Bergunting/bercukur dan 5. Tertib
1. Rukun pertama haji dan umrah
l Niat ihram haji
"Sahaja aku mengerjakan haji dan berihram dengannya kerana Allah SWT"
l Niat ihram umrah
"Sahaja aku mengerjakan umrah dan berihram dengannya kerana Allah SWT"
Dengan niat ihram, maka diharamkan ke atas mereka melakukan perkara-perkara yang dilarang dalam masa ihram. Oleh itu, sebelum mereka berniat ihram disunatkan mereka melakukan perkara-perkara seperti berikut: i. Mengerat kuku, ii. Mendandan misai dan rambut, iii. Menanggalkan bulu-bulu ketiak, ari-ari dan sebagainya. iv. Mandi sunat ihram dengan niat "Sahaja aku mandi sunat ihram kerana Allah SWT", v. Mengambil wuduk, vi. Memakai minyak rambut, vii. Memakai kain ihram warna putih, viii. Mendirikan solat sunat ihram
Setelah itu bolehlah berniat ihram serta bertalbiah. Bagi wanita haid dan nifas dibolehkan berniat ihram. Ihram haji atau umrah, sebagaimana Rasulullah SAW bersabda kepada Aisyah r.ha tentang haid. "Engkau buatlah apa sahaja yang dilakukan orang yang mengerjakan haji kecuali tawaf."
2. Rukun kedua haji (tiada pada umrah)
Wuquf di Arafah
Arafah adalah satu padang yang terletak di Wadi Wuranah sebelah Muzdalifah dan dikelilingi bukit pasir yang menghala ke Taif. Jemaah haji perlu berada di sini walaupun seketika dalam sebarang keadaan seperti duduk, berbaring atau tidur bermula dari gelincir matahari (masuk waktu Zuhur) 9 Zulhijjah sehingga sebelum terbit fajar (masuk waktu Subuh) 10 Zulhijjah.
Oleh itu, syarat sah berwuquf, jemaah telah berniat dengan niat haji, jemaah berkeadaan seorang yang layak menunaikan ibadat (tidak gila, pengesan, mabuk dan hilang akal sepanjang masa wuquf) dan jemaah perlu berada di situ walaupun seketika. (dalam waktu wuquf).
3. Rukun ketiga bagi haji dan kedua bagi umrah.
Tawaf haji dan tawaf umrah
Mengelilingi kaabah sebanyak tujuh kali dengan syarat-syaratnya seperti berikut: i. Berwuduk (suci daripada hadas besar dan kecil), ii. Menutup aurat, iii. Suci badan, pakaian dan tempat tawaf daripada najis, iv. Bermula dan berakhir di sudut Hajarul Aswad, v. Menjadikan kaabah di sebelah kiri dan berjalan ke hadapan, vi. Dilakukan dalam Masjidil Haram dan di luar binaan kaabah, Hijir Ismail dan Syazarwan, vii. Tetap niat tawaf sepanjang masa tawaf, viii. Cukup tujuh pusingan dengan yakin.
Dalam isu batal wuduk semasa mengerjakan tawaf, maslahat jemaah haji dijamin, masyaqquh dan haraj mereka seperti kesesakan di tempat tawaf yang boleh menyebabkan berlaku persentuhan lelaki dan perempuan, ia dapat dihindarkan dengan beralih daripada pendapat Syafie yang masyhur dan berpegang kepada pendapat marjuh dalam Mazhab Syafie.
Jemaah haji boleh menggunakan pendapat yang menyatakan tidak batal wuduk jika berlaku persentuhan lelaki dan perempuan tanpa syahwat. (Muzakarah Haji Kali 21. 5-7 Jun 2005)
Niat untuk tawaf haji atau umrah, tidak perlu niat kerana niat tawaf telah termasuk dalam niat ihram haji atau umrah. Jika jemaah hendak niat juga, tidak mengapa. Niat tawaf lain seperti tawaf qudum (selamat datang), tawaf sunat, tawaf wada (selamat tinggal), tawaf nazar, tawaf tahyatubait perlu kepada niat. Niat itu sebelum daripada memulakan tawaf.
4. Rukun keempat bagi haji dan ketiga bagi umrah
Saie
Saie yang diertikan ialah berulang alik di antara Bukit Safa dan Marwah sebanyak tujuh kali dengan syarat-syarat sah. Syarat sah saie ialah; (1) Dilakukan selepas tawaf rukun atau tawaf qudum, (2) Bermula di Bukit Safa dan berakhir di Bukit Marwah, (3) Cukup tujuh kali dengan yakin dikira sekali daripada Safa ke Marwah dan sekali daripada Marwah ke Safa, (4) Hendaklah sampai ke penghujung tempat saie di Safa dan di Marwah, (5) Hendaklah saie di Battnuwadi (iaitu kawasan yang telah ditetapkan oleh syarak untuk saie), (6) Tidak berniat lain yang memesongkan tujuan saie.
Dalam Muzakarah Haji Ke-25 telah menetapkan bahawa sah mengerjakan saie di tempat saie yang telah diperbesarkan. Pelebaran itu telah dilaksanakan pada musim haji 1429H.
5. Rukun kelima bagi haji dan keempat bagi umrah
Bergunting/bercukur
Bergunting atau bercukur membawa pengertian ialah menanggalkan sekurang-kurangnya tiga helai rambut di kepala dengan menurut syarat-syarat sahnya; i. Telah masuk waktu
(Bergunting/ bercukur untuk haji bermula tengah malam 10 Zulhijjah)
(waktu bergunting/bercukur umrah ialah setelah selesai saie umrah), ii. Rambut di kepala, iii. Tidak kurang daripada tiga helai rambut.
Ibadat haji ada dua Tahallul iaitu Tahallul Awal dan Tahallul Thani. Tahallul Awal terhasil apabila jemaah haji selesai mengerjakan dua daripada tiga perkara berikut: i. Melontar jamrah kubra (10 Zulhijjah) masa melontar bermula tengah malam 10 Zulhijjah hingga terbenam matahari 13 Zulhijjah, ii. Bergunting/bercukur , iii. Tawaf rukun dan saie rukun.
Tahallul Thani dikira selesai apabila jemaah melakukan ketiga-tiga perkara tersebut. Dengan itu dapatlah kita fahami bahawa bertahallul itu, terhasil bukan saja dengan bergunting/bercukur rambut. Begitu juga boleh bergunting rambut orang lain sebelum ia menggunting rambutnya.
Cuma afdalnya ia bergunting atau bercukur bagi dirinya terlebih dahulu sebelum ia mencukur/mengguntin g orang lain. Sah juga ia mencabut rambut di kepala tanpa berguting. Boleh gunting rambut di mana-mana bahagian rambut tidak semestinya di pangkal rambut.
6. Rukun keenam bagi haji (tertib pada kebanyakan rukun) rukun kelima bagi umrah (Tertib)
Haji - Tertib Pada Kebanyakan Rukun
Rukun haji dikerjakan dengan tertib pada kebanyakan rukun iaitu didahulukan niat ihram dan rukun-rukun yang lain didahulukan wukuf dari tawaf ifadah dan didahulukan tawaf dari saie. Saie haji boleh mendahului wukuf dengan syarat telah melakukan Tawaf Qudum, begitu juga bercukur/bergunting boleh mendahului tawaf jika telah masuk waktunya.
Umrah - Tertib
Melaksanakan rukun umrah satu persatu iaitu yang dahulu didahulukan.
Labels:
Haji Umrah
Ramadan, Bulan Kurnia Allah Kepada Orang Beriman
Kita sedang berada dalam bulan Ramadan Al-Mubarak, bulan kurnia Allah SWT kepada orang-orang yang beriman. Apabila tibanya bulan Ramadan Al-Mubarak, Rasulullah s.a.w. menyampaikan ucapannya, yang bermaksud: Telah tiba kepada kamu bulan Ramadan, bulan yang mulia, padanya satu malam yang kelebihannya lebih baik daripada 1,000 bulan, bulan yang pada awalnya kerahmatan, pertengahannya keampunan dan akhirnya pembebasan daripada api neraka.
Pada bulan ini, kita dijemput menjadi tetamu Allah Taala untuk menghadiri majlis hidangan-Nya. Disediakan untuk kita hidangan yang terdiri daripada makanan roh dan jasad, kerana Allah Taala menjadikan manusia dengan dua fitrah iaitu unsur roh dan unsur jasad, kedua-dua unsur ini memerlukan makanan. Makanan ini penuh dengan kelebihan, makanan roh ialah iman, ilmu, takwa dan segala sifat dan akhlak yang mulia manakala makanan jasad ialah makanan, pakaian, tempat tinggal dan sebagainya.
Allah SWT telah menentukan tugas manusia yang berbeza dengan tugas malaikat di alam roh dan berbeza dengan binatang yang hanya menjaga kepentingan jasad. Manusia mempunyai kedua-dua unsur iaitu unsur malaikat dan binatang. Sekiranya manusia menunaikan tuntutan roh dengan sebenarnya dan dalam masa yang sama berjaya menghadapi hawa nafsu kebinatangan, maka manusia akan menjadi makhluk yang lebih mulia daripada malaikat seperti para nabi dan orang-orang yang soleh. Di sana ada manusia yang lupa kepada makanan roh dan mengendalikan jasadnya seperti binatang, maka manusia itu menjadi lebih jahat daripada binatang.
Allah SWT melatih, mendidik dan memberi tarbiah kepada kita pada bulan Ramadan Al-Mubarak dengan hidangan menunaikan kewajipan berpuasa pada waktu siang hari, memberi sedekah, menjamu makanan kepada saudara-mara dan sahabat handai, jiran dan orang-orang yang memerlukan pertolongan, menghidupkan malam dengan sembahyang tarawih, bertahajud, tadarus al-Quran dan sebagainya. Semuanya ini dijanjikan kelebihannya lebih besar daripada bulan-bulan yang lain.
Ibadat puasa sahaja dijanjikan Allah SWT dengan pahala yang tidak terhingga banyaknya. Seseorang manusia yang melakukan kebaikan akan diberikan dari tiap-tiap satu kebaikan itu 10 pahala.. Adapun puasa, Allah Taala berfirman, yang bermaksud: Sesungguhnya puasa itu untuk Aku, maka terserahlah kepada-Ku untuk menentukan pahalanya.
Betapa besarnya pahala kepada orang-orang yang berpuasa, betapa ruginya mereka yang tidak berpuasa. Sesiapa sahaja yang tidak berpuasa satu hari dengan tiada sebarang keuzuran yang membolehkannya berbuka, walaupun diwajibkan kepadanya menggantikan puasa itu pada hari yang lain, namun dia tidak akan dapat menggantikan pahala puasa yang ditinggalkan satu hari itu walaupun dia berpuasa sepanjang umurnya. Itulah kelebihan yang dijanjikan Allah Taala..
Jaga diri daripada perkara menghilang pahala puasa
Marilah kita menunaikan ibadat yang diwajibkan Allah Taala itu dengan syarat-syarat dan rukun-rukun yang diwajibkan serta dengan adab-adab puasa yang menambahkan kelebihannya supaya kita menyedari bahawa puasa itu bukan sekadar menjaga diri daripada melakukan perkara yang membatalkan puasa pada waktu siang hari iaitu tidak makan, minum, bersetubuh dengan isteri, tidak memasukkan sesuatu ke dalam rongga yang terbuka tetapi seseorang itu juga perlu menjaga dirinya daripada perkara yang menghilangkan pahala puasa walaupun tidak membatalkan puasa.
Seseorang itu perlu memelihara anggota dan pancainderanya daripada melakukan perkara-perkara dosa dengan memelihara lidah, mata dan telinga supaya tidak melakukan perkara-perkara yang menghilangkan pahala puasanya. Itulah pendidikan puasa yang merupakan makanan rohani yang dihidangkan oleh Allah SWT pada bulan Ramadan.
Kita juga dijanjikan fadilat iaitu diberikan pahala pada makanan jasad. Kita makan dan minum pada bulan puasa bukan sahaja untuk kenyang tetapi diberikan pahala. Begitu juga kelebihan mereka yang bersahur. Allah SWT menjadikan kelebihan orang yang makan sahur sebagaimana yang dinyatakan oleh Rasulullah s.a.w. yang bermaksud: Sesungguhnya Allah Taala dan para malaikat bersalawat kepada orang-orang yang bersahur.
Ini menunjukkan bahawa bukan sahaja ibadat puasa, bukan sahaja perkara-perkara kebaikan yang dilakukan diberi pahala, bahkan makan dan minum kita pada bulan puasa juga diberi pahala oleh Allah Taala. Itulah keistimewaan pada bulan Ramadan Al-Mubarak dan banyak lagi keistimewaan yang lain yang disediakan oleh Allah Taala supaya kita mencapai natijah puasa yang baik.
Kita menerima kerahmatan daripada Allah SWT pada awalnya, mendapat keampunan pada pertengahannya dan dimerdekakan daripada api neraka setelah kita meninggal dunia sekiranya kita menunaikan puasa dengan sebaik-baiknya. Itulah di antara hidangan yang disediakan oleh Allah Taala. Marilah kita menyahut jemputan Allah SWT di bulan yang penuh dengan kemuliaan itu.
Firman Allah Taala yang bermaksud: Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan ke atas kamu berpuasa sebagaimana yang diwajibkan kepada umat-umat sebelum kamu supaya kamu menjadi orang-orang yang bertakwa. (Surah al-Baqarah: 183)
Pada bulan ini, kita dijemput menjadi tetamu Allah Taala untuk menghadiri majlis hidangan-Nya. Disediakan untuk kita hidangan yang terdiri daripada makanan roh dan jasad, kerana Allah Taala menjadikan manusia dengan dua fitrah iaitu unsur roh dan unsur jasad, kedua-dua unsur ini memerlukan makanan. Makanan ini penuh dengan kelebihan, makanan roh ialah iman, ilmu, takwa dan segala sifat dan akhlak yang mulia manakala makanan jasad ialah makanan, pakaian, tempat tinggal dan sebagainya.
Allah SWT telah menentukan tugas manusia yang berbeza dengan tugas malaikat di alam roh dan berbeza dengan binatang yang hanya menjaga kepentingan jasad. Manusia mempunyai kedua-dua unsur iaitu unsur malaikat dan binatang. Sekiranya manusia menunaikan tuntutan roh dengan sebenarnya dan dalam masa yang sama berjaya menghadapi hawa nafsu kebinatangan, maka manusia akan menjadi makhluk yang lebih mulia daripada malaikat seperti para nabi dan orang-orang yang soleh. Di sana ada manusia yang lupa kepada makanan roh dan mengendalikan jasadnya seperti binatang, maka manusia itu menjadi lebih jahat daripada binatang.
Allah SWT melatih, mendidik dan memberi tarbiah kepada kita pada bulan Ramadan Al-Mubarak dengan hidangan menunaikan kewajipan berpuasa pada waktu siang hari, memberi sedekah, menjamu makanan kepada saudara-mara dan sahabat handai, jiran dan orang-orang yang memerlukan pertolongan, menghidupkan malam dengan sembahyang tarawih, bertahajud, tadarus al-Quran dan sebagainya. Semuanya ini dijanjikan kelebihannya lebih besar daripada bulan-bulan yang lain.
Ibadat puasa sahaja dijanjikan Allah SWT dengan pahala yang tidak terhingga banyaknya. Seseorang manusia yang melakukan kebaikan akan diberikan dari tiap-tiap satu kebaikan itu 10 pahala.. Adapun puasa, Allah Taala berfirman, yang bermaksud: Sesungguhnya puasa itu untuk Aku, maka terserahlah kepada-Ku untuk menentukan pahalanya.
Betapa besarnya pahala kepada orang-orang yang berpuasa, betapa ruginya mereka yang tidak berpuasa. Sesiapa sahaja yang tidak berpuasa satu hari dengan tiada sebarang keuzuran yang membolehkannya berbuka, walaupun diwajibkan kepadanya menggantikan puasa itu pada hari yang lain, namun dia tidak akan dapat menggantikan pahala puasa yang ditinggalkan satu hari itu walaupun dia berpuasa sepanjang umurnya. Itulah kelebihan yang dijanjikan Allah Taala..
Jaga diri daripada perkara menghilang pahala puasa
Marilah kita menunaikan ibadat yang diwajibkan Allah Taala itu dengan syarat-syarat dan rukun-rukun yang diwajibkan serta dengan adab-adab puasa yang menambahkan kelebihannya supaya kita menyedari bahawa puasa itu bukan sekadar menjaga diri daripada melakukan perkara yang membatalkan puasa pada waktu siang hari iaitu tidak makan, minum, bersetubuh dengan isteri, tidak memasukkan sesuatu ke dalam rongga yang terbuka tetapi seseorang itu juga perlu menjaga dirinya daripada perkara yang menghilangkan pahala puasa walaupun tidak membatalkan puasa.
Seseorang itu perlu memelihara anggota dan pancainderanya daripada melakukan perkara-perkara dosa dengan memelihara lidah, mata dan telinga supaya tidak melakukan perkara-perkara yang menghilangkan pahala puasanya. Itulah pendidikan puasa yang merupakan makanan rohani yang dihidangkan oleh Allah SWT pada bulan Ramadan.
Kita juga dijanjikan fadilat iaitu diberikan pahala pada makanan jasad. Kita makan dan minum pada bulan puasa bukan sahaja untuk kenyang tetapi diberikan pahala. Begitu juga kelebihan mereka yang bersahur. Allah SWT menjadikan kelebihan orang yang makan sahur sebagaimana yang dinyatakan oleh Rasulullah s.a.w. yang bermaksud: Sesungguhnya Allah Taala dan para malaikat bersalawat kepada orang-orang yang bersahur.
Ini menunjukkan bahawa bukan sahaja ibadat puasa, bukan sahaja perkara-perkara kebaikan yang dilakukan diberi pahala, bahkan makan dan minum kita pada bulan puasa juga diberi pahala oleh Allah Taala. Itulah keistimewaan pada bulan Ramadan Al-Mubarak dan banyak lagi keistimewaan yang lain yang disediakan oleh Allah Taala supaya kita mencapai natijah puasa yang baik.
Kita menerima kerahmatan daripada Allah SWT pada awalnya, mendapat keampunan pada pertengahannya dan dimerdekakan daripada api neraka setelah kita meninggal dunia sekiranya kita menunaikan puasa dengan sebaik-baiknya. Itulah di antara hidangan yang disediakan oleh Allah Taala. Marilah kita menyahut jemputan Allah SWT di bulan yang penuh dengan kemuliaan itu.
Firman Allah Taala yang bermaksud: Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan ke atas kamu berpuasa sebagaimana yang diwajibkan kepada umat-umat sebelum kamu supaya kamu menjadi orang-orang yang bertakwa. (Surah al-Baqarah: 183)
Labels:
Bulan Ramadhan
Khutbah Jumaat: Ramadhan Menamatkan Perhambaan Diri
Sidang Jumaat yang dirahmati Allah.
Malam ini kita akan menerima kunjungan bulan Ramadhan yang dinanti-nanti. Bulan yang menyediakan segala kebaikan, dilimpahi dengan segala kemuliaan, dihiasi dengan segala ketaatan, bulan manusia membangunkan diri mereka demi mengejar nilai TAQWA, sebagaimana yang dipesankan saban minggu di atas mimbar Jumaat ini.
Firman Allah SWT di dalam surah Al-Baqarah, ayat 183:
“Wahai orang-orang yang beriman, puasa telah diwajibkan ke atas dirimu, sebagaimana ia telah diwajibkan ke atas umat sebelum kamu, mudah-mudahan dengan puasa itu kamu bertaqwa”
Namun tidak semua manusia dengan mudah, dapat memahami apa yang dikehendaki oleh Allah melalui ibadah ini.
Sejarah mencatat, pada tahun 1961 umat Islam digemparkan apabila Presiden Tunisia pertama, Habib Bourguiba, telah mengeluarkan perintah melarang rakyatnya, terutama dari kalangan kakitangan awam daripada berpuasa di bulan Ramadhan. Untuk menunjukkan tahap keseriusan beliau dengan perintah ini, Habib Bourguiba telah muncul bersama anggota kabinetnya secara langsung di televisyen pada tengah hari Ramadhan dan mereka makan beramai-ramai dengan mesej, “kami memaksudkan apa yang kami kata!”
Alasan Habib Bourguiba menghalang puasa di bulan Ramadhan itu ialah, puasa mengurangkan produktiviti negara!
Apa pendirian kita?
Apakah kita bercita-cita untuk melihat ada pemimpin negara ini yang menjejaki polisi Habib Bourguiba? Naudhubillah min Dzaalik!
Kita mungkin marah dengan Habib Bourguiba. Pandangannya itu amat bertentangan dengan al-Quran dan Sunnah Rasulullah s.a.w. Malah ia menyalahi seluruh catatan sejarah umat Islam. Apakah Habib Bourguiba tidak tahu, bahawa di bulan puasa itulah, umat Islam mencapai kemenangan di dalam Perang Badar? Kota Mekah dibebaskan di bulan Ramadhan. Ketibaan Islam di Andalus dan mengasaskan pemerintahan Islam 700 tahun, berlaku di bulan Ramadhan. Peperangan Ain Jalut yang menumpaskan pengganas Tatar berlaku di bulan Ramadhan. Pembebasan bumi Palestin oleh Salahuddin al-Ayyubi juga berlaku di bulan Ramadhan. Bulan Ramadhan adalah bulan yang hebat bagi umat Islam.
Apakah Habib Bourguiba buta sejarah?
Beliau mungkin buta sejarah. Beliau juga mungkin tidak buta sejarah. Namun apa yang penting ialah, ia adalah SEJARAH. Ia buat semasa. Ia bukan kita. Ia adalah sejarah.
Bagaimana pula dengan apa yang ada di depan mata?
Lupakan seketika Tunisia. Lihat sahaja budaya kita di Malaysia. Apakah kita hebat di bulan Ramadhan? Apakah kita produktif di bulan Ramadhan? Di bulan Ramadhan, mesyuarat sangat sukar untuk dijayakan kerana semua orang kebuntuan idea, menguap dan tumpul kepala di dalamnya. Di bulan Ramadhan, kita tangguhkan projek-projek penting ke lepas raya. Jika di bulan lain kita habis bekerja pada jam 5 petang, di bulan Ramadhan kita tinggalkan pejabat jam 4 petang. Semuanya gara-gara Bazar Ramadhan.
Tidakkah semua itu mengiyakan apa yang didakwa oleh Habib Bourguiba? Tidakkah semua itu petanda bahawa kita memang tidak produktif di bulan Ramadhan? Tepuk dada, tanyalah iman masing-masing.
Namun, silapnya Habib Bourguiba itu adalah pada kedunguannya menyalahkan puasa dan Islam. Suatu pemikiran yang cacat.
Jika anda melihat sebuah kereta Mercedez terbengkalai di tepi jalan kerana terlanggar tiang lampu, apakah anda akan menyalahkan syarikat Mercedez dan teknologinya? Mustahil. Tiada siapa yang akan menyalahkan Mercedez. Sebaliknya kita akan tunding kesalahan itu kepada pemandunya. Setelah diberi Mercedez, masih boleh melanggar tiang lampu. Tetapi bagaimana pula dengan Islam dan Muslim? Mengapakah kelemahan umat Islam, kecacatan umat Islam, justeru Islam yang dipersalahkan?
Sidang Jumaat sekalian.
Jika kita tidak bersetuju dengan polisi Habib Bourguiba, buktikanlah ia. Jangan bergantung hanya kepada hujah kata-kata bersandarkan al-Quran, Sunnah dan Sejarah semata-mata. Sebaliknya buktikan dengan perbuatan, Ramadhan menambah kualiti diri, bukannya mengundang malas, lesu dan hilang produktiviti.
Kaum Muslimin, rahimakumullaah,
Telah diriwayatkan, tatkala tibanya bulan Ramadhan, Rasulullah s.a.w akan mengingatkan para sahabat telah erti dan nilai bulan yang mulia ini. Semuanya adalah untuk mengingatkan kita agar mengambil peluang yang diberikan oleh Allah ini. Misalnya di dalam sepotong hadith, Baginda s.a.w. yang bermaksud:
"Wahai sekalian manusia. Telah datang kepada kamu Ramadhan. Bulan yang penuh keberkatan. Bulan yang difardhukan ke atas kamu oleh Allah ‘Azza wa Jalla puasanya. Di bulan itu pintu Syurga dibuka, pintu neraka Jahim ditutup dan para Syaitan dirantai. Padanya ada satu malam yang lebih baik daripada seribu bulan. Barangsiapa yang terlepas peluang meraih rahmat ini, maka sesungguhnya dia itu hakikatnya diharamkan dari rahmat Allah." [Hadith riwayat al-Nasaai]
Jika ada sebuah pasaraya membuat tawaran istimewa, beli satu dapat 10, jalanraya dilapangkan menuju pasaraya itu, lampu isyarat semua dihijaukan, kenderaan lain semua dilencongkan, agar segala kemudahan diberi untuk kita pergi mendapatkan tawaran itu, tetapi kita tidak peduli dan tidak teringin langsung kepadanya, maka sesungguhnya kita memang tidak berminat sungguh dengan apa yang ditawarkan oleh pasaraya tersebut.
Demikianlah juga halnya dengan Ramadhan.
Seandainya pintu Syurga sudah dibuka, pintu Neraka ditutup kunci, malah Syaitan dirantai agar lemah potensinya dalam mengganggu manusia, segala gandaan pahala diberi dan segala galakan kebaikan ditawarkan, tiba-tiba kita langsung tidak tertarik untuk mendapatkannya, ia menandakan bahawa kita memang tidak berminat dengan Allah, tidak berminat dengan tawaran-Nya, tidak berminat dengan Syurga dan tidak pernah kisah dengan Neraka. Maka sesungguhnya orang ini benar-benar tidak mendapat sebarang rahmat daripada Allah. Semoga Allah melindungi kita daripada kedegilan dan kesombongan yang membinasakan itu.
Sidang Jumaat sekalian,
Apakah sebenarnya yang ada pada ibadah puasa di bulan Ramadhan, sehingga ia dijanjikan dengan sebuah kehebatan?
Jika seorang itu tidak makan kerana tiada makanan, keadaan itu tidak akan mendidik dirinya dengan sebarang nilai pendidikan. Jika seseorang itu tidak minum kerana tiada minuman, keadaan itu tidak akan melatihnya dengan sebarang nilai latihan. Tetapi jika seseorang itu ada segalanya untuk dimakan, namun beliau memilih untuk tidak makan kerana mahu mematuhi Allah SWT, maka di situlah datangnya nilai Tarbiyah.
Kita belajar untuk berkata TIDAK, kepada sesetengah keinginan dan kemahuan diri, kerana mahu mentaati Allah, itulah sebuah LATIHAN. Ramadhan melatih kita untuk mempunyai kekuatan mengawal keinginan dan kemahuan, supaya kita tidak terus terbelenggu menjadi hamba kepada hawa nafsu dan diri sendiri.
Tidakkah kita ingat, kepada peringatan Allah SWT di dalam al-Quran:
"Apakah engkau tidak melihat gelagat orang yang menjadikan hawa nafsunya: Tuhan yang disembah? Lalu dia disesatkan oleh Allah dalam keadaan dirinya berilmu dan dimeteraikan pula atas pendengarannya dan hatinya, serta diadakan lapisan penutup atas penglihatannya? Maka siapakah lagi yang dapat memberi hidayah petunjuk kepadanya sesudah? Oleh itu, mengapa tidak ingat dan insaf?" [al-Jaatsiyyah : 23]
Seorang manusia menyembah Tuhan palsu tanpa perlu menyembah berhala. Dia mengambil Tuhan palsu dalam hidupnya apabila hawa nafsunya sendiri diutamakan, membelakangi perintah dan suruhan Allah SWT. Apabila manusia menjadi hamba kepada dirinya sendiri, dia menjadi sesat walaupun berilmu. Malah sesatnya menebal hingga menutup mata, telinga dan hatinya daripada peringatan. Semua itu berlaku apabila seorang manusia tidak mampu berkata TIDAK kepada kemahuan-kemahuan diri, sebaliknya sentiasa mengikut perasaan dan kata nafsu dalam kehidupan.
Alangkah besarnya bencana manusia seperti ini.
Justeru Allah datangkan Ramadhan dan ibadah puasa, agar manusia belajar mengawal diri. Belajar untuk mampu berkata TIDAK kepada sebahagian kehendak diri yang diciptakan Allah kita ini ada kecenderungan kepada kebaikan dan ada kecenderungan kepada kejahatan.
Ini bersesuaian dengan sabda Rasulullah SAW:
“Bukanlah dikatakan gagah itu orang yang kuat bergusti. Akan tetapi yang dikatakan gagah itu orang yang dapat memiliki (mengawal) dirinya ketika marah” [Muttafaq ‘alayh]
Pandangan ramai mungkin melihat juara gusti sebagai orang yang gagah.
Tetapi Rasulullah SAW menegaskan bahawa, kegagahan sebenar adalah pada keupayaan seseorang itu mengawal dirinya, terutamanya ketika marah. Manusia yang gagah atau lemah, mudah tertonjol warna sebenarnya ketika marah. Seorang juara gusti tidak mampu menyelamatkan rumahtangganya, apabila gagal menahan marah. Seorang billionaire yang mampu membeli apa sahaja, gagal menyelamatkan perniagaannya apabila hilang pertimbangan ketika marah.
Marah boleh membuatkan seorang manusia bertindak menghancur binasakan dunia. Manusia yang mampu mengawal diri kita diri terbakar disambar api kemarahan, itulah manusia yang gagah.
Kerana itulah di bulan Ramadhan, selain latihan mengawal diri daripada makan dan minum, Islam juga datangkan beberapa siri latihan lain untuk mengukuhkan proses ini.
Sabda Nabi SAW:
"Bukanlah berpuasa itu sekadar menahan dari makan dan minum. Sesungguhnya puasa itu juga adalah menahan diri dari perkara yang sia-sia dan kotor (lucah). Jika kamu dimaki oleh seseorang atau diperbodohkannya, maka berkatalah: Sesungguhnya aku berpuasa" [riwayat Ibn Khuzaimah dan al-Hakim / Sahih al-Targhib 1068]
Kawal diri dari makan dan minum. Kawal diri dari larut dalam perkara yang sia-sia. Kawal diri dari kelakuan dan percakapan sumbang dan lucah. Jika dicela, dimaki hamun atau diperbodohkan, secara khusus di bulan Ramadhan ini, jangan dibalas provokasi itu, sebaliknya kawallah diri. Nyatakan, “aku berpuasa”. Ia bukan suatu kekalahan apabila tidak membalas. Tetapi ia adalah suatu latihan untuk meningkatkan daya mampu mengawal diri dan berkata TIDAK kepada perkara-perkara yang mengundang mudharat dan kerugian.
Sidang Jumaat sekalian,
Ambillah ini sebagai suatu proses yang dilatih secara tubi.
Semasa membeli di Bazar Ramadhan, semasa membeli barangan untuk sambutan Aidilfitri, pastikan kita peka kepada proses mengawal diri ini. Belajarlah untuk berkata tidak.
Semoga dengan daya mengawal diri yang baik, kuranglah penceraian yang berpunca dari suami isteri yang hilang kawalan diri, kuranglah rasuah daripada berlaku ketika pekerja kurang daya mengawal diri, kuranglah sambutan terhadap hiburan melampau tatkala masyarakat kurang mampu mengawal hawa nafsu dan kehendak diri. Semoga dengan daya mengawal diri yang baik, bercambah-cambahlah kebaikan dalam hidup kita semua, ameen.
Malam ini kita akan menerima kunjungan bulan Ramadhan yang dinanti-nanti. Bulan yang menyediakan segala kebaikan, dilimpahi dengan segala kemuliaan, dihiasi dengan segala ketaatan, bulan manusia membangunkan diri mereka demi mengejar nilai TAQWA, sebagaimana yang dipesankan saban minggu di atas mimbar Jumaat ini.
Firman Allah SWT di dalam surah Al-Baqarah, ayat 183:
“Wahai orang-orang yang beriman, puasa telah diwajibkan ke atas dirimu, sebagaimana ia telah diwajibkan ke atas umat sebelum kamu, mudah-mudahan dengan puasa itu kamu bertaqwa”
Namun tidak semua manusia dengan mudah, dapat memahami apa yang dikehendaki oleh Allah melalui ibadah ini.
Sejarah mencatat, pada tahun 1961 umat Islam digemparkan apabila Presiden Tunisia pertama, Habib Bourguiba, telah mengeluarkan perintah melarang rakyatnya, terutama dari kalangan kakitangan awam daripada berpuasa di bulan Ramadhan. Untuk menunjukkan tahap keseriusan beliau dengan perintah ini, Habib Bourguiba telah muncul bersama anggota kabinetnya secara langsung di televisyen pada tengah hari Ramadhan dan mereka makan beramai-ramai dengan mesej, “kami memaksudkan apa yang kami kata!”
Alasan Habib Bourguiba menghalang puasa di bulan Ramadhan itu ialah, puasa mengurangkan produktiviti negara!
Apa pendirian kita?
Apakah kita bercita-cita untuk melihat ada pemimpin negara ini yang menjejaki polisi Habib Bourguiba? Naudhubillah min Dzaalik!
Kita mungkin marah dengan Habib Bourguiba. Pandangannya itu amat bertentangan dengan al-Quran dan Sunnah Rasulullah s.a.w. Malah ia menyalahi seluruh catatan sejarah umat Islam. Apakah Habib Bourguiba tidak tahu, bahawa di bulan puasa itulah, umat Islam mencapai kemenangan di dalam Perang Badar? Kota Mekah dibebaskan di bulan Ramadhan. Ketibaan Islam di Andalus dan mengasaskan pemerintahan Islam 700 tahun, berlaku di bulan Ramadhan. Peperangan Ain Jalut yang menumpaskan pengganas Tatar berlaku di bulan Ramadhan. Pembebasan bumi Palestin oleh Salahuddin al-Ayyubi juga berlaku di bulan Ramadhan. Bulan Ramadhan adalah bulan yang hebat bagi umat Islam.
Apakah Habib Bourguiba buta sejarah?
Beliau mungkin buta sejarah. Beliau juga mungkin tidak buta sejarah. Namun apa yang penting ialah, ia adalah SEJARAH. Ia buat semasa. Ia bukan kita. Ia adalah sejarah.
Bagaimana pula dengan apa yang ada di depan mata?
Lupakan seketika Tunisia. Lihat sahaja budaya kita di Malaysia. Apakah kita hebat di bulan Ramadhan? Apakah kita produktif di bulan Ramadhan? Di bulan Ramadhan, mesyuarat sangat sukar untuk dijayakan kerana semua orang kebuntuan idea, menguap dan tumpul kepala di dalamnya. Di bulan Ramadhan, kita tangguhkan projek-projek penting ke lepas raya. Jika di bulan lain kita habis bekerja pada jam 5 petang, di bulan Ramadhan kita tinggalkan pejabat jam 4 petang. Semuanya gara-gara Bazar Ramadhan.
Tidakkah semua itu mengiyakan apa yang didakwa oleh Habib Bourguiba? Tidakkah semua itu petanda bahawa kita memang tidak produktif di bulan Ramadhan? Tepuk dada, tanyalah iman masing-masing.
Namun, silapnya Habib Bourguiba itu adalah pada kedunguannya menyalahkan puasa dan Islam. Suatu pemikiran yang cacat.
Jika anda melihat sebuah kereta Mercedez terbengkalai di tepi jalan kerana terlanggar tiang lampu, apakah anda akan menyalahkan syarikat Mercedez dan teknologinya? Mustahil. Tiada siapa yang akan menyalahkan Mercedez. Sebaliknya kita akan tunding kesalahan itu kepada pemandunya. Setelah diberi Mercedez, masih boleh melanggar tiang lampu. Tetapi bagaimana pula dengan Islam dan Muslim? Mengapakah kelemahan umat Islam, kecacatan umat Islam, justeru Islam yang dipersalahkan?
Sidang Jumaat sekalian.
Jika kita tidak bersetuju dengan polisi Habib Bourguiba, buktikanlah ia. Jangan bergantung hanya kepada hujah kata-kata bersandarkan al-Quran, Sunnah dan Sejarah semata-mata. Sebaliknya buktikan dengan perbuatan, Ramadhan menambah kualiti diri, bukannya mengundang malas, lesu dan hilang produktiviti.
Kaum Muslimin, rahimakumullaah,
Telah diriwayatkan, tatkala tibanya bulan Ramadhan, Rasulullah s.a.w akan mengingatkan para sahabat telah erti dan nilai bulan yang mulia ini. Semuanya adalah untuk mengingatkan kita agar mengambil peluang yang diberikan oleh Allah ini. Misalnya di dalam sepotong hadith, Baginda s.a.w. yang bermaksud:
"Wahai sekalian manusia. Telah datang kepada kamu Ramadhan. Bulan yang penuh keberkatan. Bulan yang difardhukan ke atas kamu oleh Allah ‘Azza wa Jalla puasanya. Di bulan itu pintu Syurga dibuka, pintu neraka Jahim ditutup dan para Syaitan dirantai. Padanya ada satu malam yang lebih baik daripada seribu bulan. Barangsiapa yang terlepas peluang meraih rahmat ini, maka sesungguhnya dia itu hakikatnya diharamkan dari rahmat Allah." [Hadith riwayat al-Nasaai]
Jika ada sebuah pasaraya membuat tawaran istimewa, beli satu dapat 10, jalanraya dilapangkan menuju pasaraya itu, lampu isyarat semua dihijaukan, kenderaan lain semua dilencongkan, agar segala kemudahan diberi untuk kita pergi mendapatkan tawaran itu, tetapi kita tidak peduli dan tidak teringin langsung kepadanya, maka sesungguhnya kita memang tidak berminat sungguh dengan apa yang ditawarkan oleh pasaraya tersebut.
Demikianlah juga halnya dengan Ramadhan.
Seandainya pintu Syurga sudah dibuka, pintu Neraka ditutup kunci, malah Syaitan dirantai agar lemah potensinya dalam mengganggu manusia, segala gandaan pahala diberi dan segala galakan kebaikan ditawarkan, tiba-tiba kita langsung tidak tertarik untuk mendapatkannya, ia menandakan bahawa kita memang tidak berminat dengan Allah, tidak berminat dengan tawaran-Nya, tidak berminat dengan Syurga dan tidak pernah kisah dengan Neraka. Maka sesungguhnya orang ini benar-benar tidak mendapat sebarang rahmat daripada Allah. Semoga Allah melindungi kita daripada kedegilan dan kesombongan yang membinasakan itu.
Sidang Jumaat sekalian,
Apakah sebenarnya yang ada pada ibadah puasa di bulan Ramadhan, sehingga ia dijanjikan dengan sebuah kehebatan?
Jika seorang itu tidak makan kerana tiada makanan, keadaan itu tidak akan mendidik dirinya dengan sebarang nilai pendidikan. Jika seseorang itu tidak minum kerana tiada minuman, keadaan itu tidak akan melatihnya dengan sebarang nilai latihan. Tetapi jika seseorang itu ada segalanya untuk dimakan, namun beliau memilih untuk tidak makan kerana mahu mematuhi Allah SWT, maka di situlah datangnya nilai Tarbiyah.
Kita belajar untuk berkata TIDAK, kepada sesetengah keinginan dan kemahuan diri, kerana mahu mentaati Allah, itulah sebuah LATIHAN. Ramadhan melatih kita untuk mempunyai kekuatan mengawal keinginan dan kemahuan, supaya kita tidak terus terbelenggu menjadi hamba kepada hawa nafsu dan diri sendiri.
Tidakkah kita ingat, kepada peringatan Allah SWT di dalam al-Quran:
"Apakah engkau tidak melihat gelagat orang yang menjadikan hawa nafsunya: Tuhan yang disembah? Lalu dia disesatkan oleh Allah dalam keadaan dirinya berilmu dan dimeteraikan pula atas pendengarannya dan hatinya, serta diadakan lapisan penutup atas penglihatannya? Maka siapakah lagi yang dapat memberi hidayah petunjuk kepadanya sesudah? Oleh itu, mengapa tidak ingat dan insaf?" [al-Jaatsiyyah : 23]
Seorang manusia menyembah Tuhan palsu tanpa perlu menyembah berhala. Dia mengambil Tuhan palsu dalam hidupnya apabila hawa nafsunya sendiri diutamakan, membelakangi perintah dan suruhan Allah SWT. Apabila manusia menjadi hamba kepada dirinya sendiri, dia menjadi sesat walaupun berilmu. Malah sesatnya menebal hingga menutup mata, telinga dan hatinya daripada peringatan. Semua itu berlaku apabila seorang manusia tidak mampu berkata TIDAK kepada kemahuan-kemahuan diri, sebaliknya sentiasa mengikut perasaan dan kata nafsu dalam kehidupan.
Alangkah besarnya bencana manusia seperti ini.
Justeru Allah datangkan Ramadhan dan ibadah puasa, agar manusia belajar mengawal diri. Belajar untuk mampu berkata TIDAK kepada sebahagian kehendak diri yang diciptakan Allah kita ini ada kecenderungan kepada kebaikan dan ada kecenderungan kepada kejahatan.
Ini bersesuaian dengan sabda Rasulullah SAW:
“Bukanlah dikatakan gagah itu orang yang kuat bergusti. Akan tetapi yang dikatakan gagah itu orang yang dapat memiliki (mengawal) dirinya ketika marah” [Muttafaq ‘alayh]
Pandangan ramai mungkin melihat juara gusti sebagai orang yang gagah.
Tetapi Rasulullah SAW menegaskan bahawa, kegagahan sebenar adalah pada keupayaan seseorang itu mengawal dirinya, terutamanya ketika marah. Manusia yang gagah atau lemah, mudah tertonjol warna sebenarnya ketika marah. Seorang juara gusti tidak mampu menyelamatkan rumahtangganya, apabila gagal menahan marah. Seorang billionaire yang mampu membeli apa sahaja, gagal menyelamatkan perniagaannya apabila hilang pertimbangan ketika marah.
Marah boleh membuatkan seorang manusia bertindak menghancur binasakan dunia. Manusia yang mampu mengawal diri kita diri terbakar disambar api kemarahan, itulah manusia yang gagah.
Kerana itulah di bulan Ramadhan, selain latihan mengawal diri daripada makan dan minum, Islam juga datangkan beberapa siri latihan lain untuk mengukuhkan proses ini.
Sabda Nabi SAW:
"Bukanlah berpuasa itu sekadar menahan dari makan dan minum. Sesungguhnya puasa itu juga adalah menahan diri dari perkara yang sia-sia dan kotor (lucah). Jika kamu dimaki oleh seseorang atau diperbodohkannya, maka berkatalah: Sesungguhnya aku berpuasa" [riwayat Ibn Khuzaimah dan al-Hakim / Sahih al-Targhib 1068]
Kawal diri dari makan dan minum. Kawal diri dari larut dalam perkara yang sia-sia. Kawal diri dari kelakuan dan percakapan sumbang dan lucah. Jika dicela, dimaki hamun atau diperbodohkan, secara khusus di bulan Ramadhan ini, jangan dibalas provokasi itu, sebaliknya kawallah diri. Nyatakan, “aku berpuasa”. Ia bukan suatu kekalahan apabila tidak membalas. Tetapi ia adalah suatu latihan untuk meningkatkan daya mampu mengawal diri dan berkata TIDAK kepada perkara-perkara yang mengundang mudharat dan kerugian.
Sidang Jumaat sekalian,
Ambillah ini sebagai suatu proses yang dilatih secara tubi.
Semasa membeli di Bazar Ramadhan, semasa membeli barangan untuk sambutan Aidilfitri, pastikan kita peka kepada proses mengawal diri ini. Belajarlah untuk berkata tidak.
Semoga dengan daya mengawal diri yang baik, kuranglah penceraian yang berpunca dari suami isteri yang hilang kawalan diri, kuranglah rasuah daripada berlaku ketika pekerja kurang daya mengawal diri, kuranglah sambutan terhadap hiburan melampau tatkala masyarakat kurang mampu mengawal hawa nafsu dan kehendak diri. Semoga dengan daya mengawal diri yang baik, bercambah-cambahlah kebaikan dalam hidup kita semua, ameen.
Labels:
Bulan Ramadhan
Bilakah tibanya hari kiamat?????
Pasti semua orang tahu apa itu Hari Kiamat. Kiamat adalah hari di mana akan mati segala hidupan dan akan musnahlah segala-galanya di muka bumi ini. Pada hari itu tiada seorang pun terkecuali dari menghadapi betapa gerunnya Kiamat.Aku terpanggil membuat entri ini sejak terbaca tentang perbincangan dalam entri kisah tahun 2012 yang mana mengatakan bahawa pada tahun itu Kiamat akan tiba, Wallahualam. Jadi aku ingin mengajak anda semua mengetahui peristiwa-peristiwa yang akan berlaku sebelum tibanya Kiamat. Berikut adalah tanda-tanda besar yang akan berlaku sebelum Kiamat:
1. Munculnya Imam Mahdi
Nabi Muhammad SAW merupakan nabi yang terakhir diutuskan dan Imam Mahdi pula adalah imam yang terkahir dan tiada lagi imam sesudahnya. Imam Mahdi adalah dari keturunan Hasan, yakni anak kepada Fatimah dan Ali bin Abi Talib. Ali pernah melihat Hasan sambil berkata: “Anakku ini akan menjadi pemimpin seperti dijanjikan Rasulullah dan nanti juga akan keluar dari keturunannya seorang lelaki yang namanya, kelakuannya sama seperti dengan nama nabi kamu, namun bentuk tubuhnya tidak sama”. Kemudian Ali menceritakan keadaan Imam Mahdi yang memimpin dunia secara adil dan bijaksana.

Rasulullah SAW pernah bersabda, “Akan keluarlah manusia dari sebelah timur, lalu mereka pergi menemui Mahdi, yakni untuk mengikuti pemerintahannya”. Imam Mahdi yang dijanjikan akan datang di akhir zaman itu dikatakan akan mucul dari timur dan mereka akan melantiknya di Mekah. Beliau akan memimpin dunia selama lima, tujuh atau sembilan tahun dan pada zamannya nanti ajaran Islam dapat ditegakkan, musuh-musuh Islam takut akannya, pemerintahannya tiada cacat cela, tiada kezaliman dan kebaikan berkekalan. Beliau menguasai dunia seperti Nabi Allah Sulaiman.
2. Munculnya Al-Masih Dajjal
Mengapa dia digelar Al-Masih? Nama Al-Masih diberi kerana buruknya rupa dan bentuk tubuh Dajjal dan dia diciptakan sebagai makhluk yang dilaknat kerana ia kufur dan mengaku dirinya sebagai tuhan. Al-Masih juga diberi kepada Dajjal kerana terhapus atau hilang mata sebelahnya. Kekuasaannya mencakup seluruh daratan dan lautan dan dia boleh menahan sungai daripada mengalir. Di antara kedua matanya tertulis kalimat KAFIR dan ia dapat dibaca oleh setiap mukmin sama ada pandai membaca atau tidak. Dia akan hidup di bumi selama 40 tahun.

Pada akhir zaman nanti kemarau panjang akan berlaku, hujan tidak turun dengan lamanya, tumbuhan tidak tumbuh dan dunia semakin kering kontang, sementara manusia dalam kelaparan, kehausan dan banyak penyakit melanda. Ketika itulah akan munculnya Al-Masih Dajjal dengan hebatnya. Dia memerintahkan langit menurunkan hujan dan dia menyuruh bumi mengeluarkan tumbuhan, dan ia benar-benar berlaku. Kemudian dia menyuruh sungai supaya mengalir membasahi kekeringan bumi.
Dajjal menunjukkan kehebatannya dalam mengubati pelbagai penyakit, bahkan dia boleh menghidupkan orang yang sudah mati. Dia berpura-pura mengajak manusia kepada pendamaian dan kemudian banyaklah pengikutnya. Dalam keadaaan demikian, maka Dajjal mengaku dirinya sebagai nabi Allah dan ramai percaya terhadapnya. Akhir sekali dia akan mengaku dirinya sebagai tuhan bahkan dia mempunyai syurga dan neraka.
Dajjal berkata, “Akulah tuhan semesta alam dan aku sanggu menghidupkan dan mematikan”. Tiba-tiba ada seorang mukmin membantahnya dan Dajjal terus membelahnya kepada dua bahagian. Kemudian Dajjal menyeru kepada tubuh mukmin itu, “Berdiri engkau”, lalu ia pon berdiri dan Dajjal bertanya lagi, “Percayakah engkau aku ini tuhan sekalian alam?”, orang mukmin itu menjawab, “Tidak, engkau masih Al-Masih pembohong”, lalu mukmin itu dicampakkan ke neraka milik Dajjal.
Orang-orang yang percaya pada Dajjal kemudian mengikutinya setelah melihat sendiri penipuan yang berlaku. Begitulah ramai yang akan kufur pada Allah dan beriman kepada Dajjal. Dajjal akan dibantu oleh syaitan dan jin dalam melakukan segalanya termasuk harta kekayaan. Mereka akan membantu Dajjal sama seperti mereka membantu Nabi Sulaiman satu ketika dahulu. Namun Dajjal tidak dapat memasuki kota Mekah dan Madinah kerana keduanya dijaga oleh Malaikat.
Bilangan orang-orang mukmin semakin sedikit lalu mereka lari ke puncak Bukit Dukhan untuk menyelamatkan diri dari Dajjal serta pengikutnya yang terdiri dari bani Iblis dan Bani Adam yang ramai dan kahirnya mereka dikepung di sana. Mereka ketakutan dan kelaparan berikutan tiada makan dan minuman di sana dan hanya mampu berdoa, berzikir, bertasbih dan bertahmid dengan kuat meminta pertolongan Allah. Tentera Dajjal tak dapat mendekati mereka kerana bacaan yang kuat itu.
Berbulan-bulan mereka terperangkap di atas bukit dan tiba-tiba langit menjadi gelap-gelita sehingga telapak tangan pun tak dapat dilihat depan mata. Kemudian mereka mendengar satu seruan dari langit, “Telah datang kepada kamu pertolongan!”. Tatkala itu bumi disinari nur dari langit dan turunlah Isa bin Maryam dan tangannya pada sayap dua Malaikat. Dajjal yang mengetahui kedatangan Nabi Isa kemudian terus pucat dan menyuruh pengikutnya mengerjakan solat. Ketika Nabi Isa mendatangi Dajjal, lalu Dajjal sambil ketakutan berkata, “Wahai nabi Allah, kami baru sahaja mengerjakan solat”. Isa AS bekata, “Wahai musuh Allah, engkau mengaku sebagai tuhan sekalian alam, untuk siapa kau solat dan mengabdi?” Lalu tamatlah riwayat Dajjal dibunuh oleh Nabi Isa di Babu Luddi Palestin.
3. Turunnya Isa bin Maryam
Nabi Isa adalah nabi kedua terakhir yang diutuskan Allah. Nabi Isa telah dinaikkan ke langit dan hidup dengan aman hingga sekarang setelah cubaan membunuh oleh kaumnya. Waktu Dajjal berleluasa pada akhir zaman, Nabi Isa akan turun dan membunuhnya serta memimpin umat Nabi Muhammad ke jalan yang benar dan akan dihapuskan segala agama selain Islam. Dunia ketika itu akan aman sehingga anak perempuan boleh bermain dengan harimau.

Turunnya Nabi Isa diriwayatkan bahawa beliau akan turun berdekatan dengan menara putih di Timur Damsyik dengan memakai pakaian kuning pada waktu fajar. Dua telapak tangannya terletak di atas sayap dua Malaikat. Kulitnya putih kemerah-merahan dan terdapat nur di wajahnya. Beliau akan menghancurkan salib-salib, membunuh semua babi, menghapuskan cukai dan tidak membayar zakat kerana waktu itu tiada seorang pun yang berhak menerimanya. Tiada lagi cemburu, dengki , marah-memarahi antara satu sama lain, dunia berjalan dengan aman dan lancar.
Bumi akan mengeluarkan cahaya dan menumbuhkan tumbuhan sama seperti zaman Nabi Adam dan ramai orang memetiknya dan makan sehingga kenyang. Nabi Isa akan memimpin dunia dengan aman selama 40 tahun sebelum kewafatan beliau di Madinah. Beliau disembahyangkan oleh kaum muslimin dan dimakamkan berdekatan makam Rasulullah SAW. Yakjuj Makjuj iaitu kaum yang amat ditakuti manusia juga akan muncul pada zaman Nabi Isa ini.
4. Keluarnya Yakjuj dan Makjuj
Yakjuj dan Makjuj adalah dua kaum yang telah hidup lama di sebalik dua gunung dari zaman Nabi Ibrahim hinggalah sekarang dan mereka suka berbuat kerosakan di muka bumi dan menyusahkan dan mengganggu manusia. Masyarakat waktu itu tidak tahan dengan Yakjuj Makjuj lalu meminta Raja Zulqarnain iaitu pemimpin yang agung untuk membuat benteng menahan Yakjuj Makjuj dari keluar dari sebalik gunung tersebut. Lalu mereka bekerjasama membuat benteng yang tingginya sama tinggi seperti dua puncak gunung itu. Di situlah Yakjuj Makuj terkurung sehingga Kiamat nanti.

Telah tiba masanya lalu dengan izin Allah maka hancurlah dinding yang menahan kaum Yakjuj Makjuj dari melihat dunia selama ini. Mereka pun turun dari celahan gunung itu dengan lajunya seperti empangan yang pecah mengeluarkan airnya. Lalu Yakjuj Makjuj meminum dan memakan apa sahaja yang mereka jumpai sehingga kering air sungai dan perigi. Manusia ketika itu semuanya ketakutan dan bersembunyi, mereka memohon agar Nabi Isa menghancurkan Yakjuj dan Makjuj. Maka berdoalah Isa ke hadrat Allah dan berkat doanya, lalu Allah mengirimkan ulat kepada Yakjuj Makjuj dan mereka mati kesemuanya.
5. Matahari Terbit Dari Barat
Terbitnya matahari dari ufuk barat adalah suatu yang mustahil akan berlaku tanpa izin Allah kerana ia bertentangan dengan hukum alam. Ketahuikah anda bahawa matahari itu setelah ia diciptakan, ia sentiasa mengikut peredarannya iaitu terbit di timur dan terbenam di barat? Setelah terbenam, ia pergi ke bawah Halimatul Arasy, sujud kepada Allah dan mensucikanNya dan membesarkanNya. Kemudian matahari akan meminta izin Allah untuk terbit kembali menjalankan tugasnya seperti biasa.
Setelah wafatnya Nabi Isa, manusia ketika itu ada yang tetap taat pada ajaran Islam dan banyak yang kembali kufur kepada Allah. Tidak lama kemudian berlakulah satu perubahan yang ketara pada alam semesta yang tidak pernah terjadi sepanjang umur dunia. Apabila matahari terbenam, malam menjelma seperti biasa, namun semua manusia dapat merasai keanehan malam tersebut. Malam itu terlalu lama dan panjangnya sama dengan dua malam biasa. Orang yang tidur sudah puas tidur, orang yang selalu solat subuh di awal waktu masih menanti masa solat, sehingga ramai yang keluar dari rumah masing-masing bertanya kepada jiran mengapa dunia masih gelap.Rupanya Allah telah menahan matahari dari menjalani tugasnya, Allah berfirman, “Diamlah engkau disini”. Matahari pun diam selama dua malam sehinggalah Allah memerintahkan, “Terbitlah engkau dari tempat terbenammu”, lalu terbitlah matahari dari ufuk barat. Tatkala itu semua penduduk dunia berasa sangat pelik kerana ia tak pernah berlaku dalam sejarah, matahari telah terbit dari tempat terbenamnya. Kemudian kesemua mereka menangis sama ada yang Islam atau yang kafir kerana mereka sudah tahu hampirnya Kiamat. Namun segala tangisan dan taubat sudah tak berguna lagi. Pada waktu terbitnya matahari dari barat, Allah telah menutup segala pintu taubat dan pintu syurga, maka menyesallah mereka sehingga mulai hari itu, tidak seorang pun akan bekerja lagi.
Mukjizatnya Azan
Oleh : KAMARUL SADILA
Pesanan Semasa Mendengar Azan...
Kematian itu pasti menjelma. Hanya masa dan waktunya yang tidak kita ketahui. Cuba kita amati. Mengapa kebanyakan orang yang nazak, hampir ajal tidak dapat berkata apa-apa.... lidahnya kelu, keras dan hanya mimik mukanya yang menahan kesakitan 'sakaratul maut'.
Diriwayatkan sebuah hadis yg bermaksud: "Hendaklah kamu mendiamkan diri ketika azan, jika tidak Allah akan kelukan lidahnya ketika maut menghampirinya. "Ini jelas menunjukkan, kita disarankan agar mendiamkan diri, jangan berkata apa-apa pun semasa azan
berkumandang.
Sebagai orang beragama Islam kita wajib menghormati azan. Banyak fadhilatnya. Jika lagu kebangsaan kita diajar agar berdiri tegak dan diamkan diri. Mengapa ketika azan kita tidak boleh mendiamkan diri? Lantas sesiapa yang berkata-kata ketika azan, Allah akan kelukan lidahnya ketika nazak .
Kita takut dengan kelunya lidah kita semasa ajal hampir tiba maka kita tidak dapat mengucap kalimah "Lailahaillallah. ." yang mana sesiapa yang dapat mengucapkan kalimah ini ketika nyawanya akan dicabut Allah dgn izinNya menjanjikan syurga untuk mereka.
Dari itu marilah kita sama-sama menghormati azan dan mohon kepada Allah supaya lidah ini tidak kelu semasa nyawa kita sedang dicabut.
"Ya Allah! Anugerahkanlah kematian kami dengan kematian yang baik lagi mulia, lancarkan lidah kami mengucap kalimah "Lailahaillallah. ." semasa sakaratul maut menghampiri kami.
Amin..amin.. amin Yarobbal a'lamin.."
WASIAT NABI MUHAMMAD S.A.W. kepada SAIDINA ALI R.A.;
Wahai Ali, bagi orang 'ALIM itu ada 3 tanda2nya:
1) Jujur dalam berkata-kata.
2) Menjauhi segala yg haram.
3) Merendahkan diri.
Wahai Ali, bagi orang yg JUJUR itu ada 3 tanda2nya:
1) Merahsiakan ibadahnya.
2) Merahsiakan sedekahnya.
3) Merahsiakan ujian yg menimpanya.
Wahai Ali, bagi org yg TAKWA itu ada 3 tanda2nya:
1) Takut berlaku dusta dan keji.
2) Menjauhi kejahatan.
3) Memohon yang halal kerana takut jatuh dalam keharaman.
Wahai Ali, bagi AHLI IBADAH itu ada 3 tanda2nya:
1) Mengawasi dirinya.
2) Menghisab dirinya.
3) Memperbanyakkan ibadah kepada Allah s.w.t.
Wang RM50 kelihatan begitu besar bila dibawa ke kotak derma masjid,
tetapi begitu kecil bila kita bawa ke supermarket. 45 minit terasa terlalu
lama untuk berzikir tapi betapa pendeknya waktu itu untuk pertandingan
bola sepak. Semua insan ingin memasuki syurga tetapi tidak ramai yang
berfikir dan berbicara tentang bagaimana untuk memasukinya.
Kepada sahabatku yang dimuliai & dihormati...
Kita boleh mengirimkan ribuan 'jokes' dan ' surat berantai' melalui
e-mail mahupun edit/mengedit dan lain-lain..tetapi bila mengirimkan yang berkaitan dengan ibadah seringkali berfikir 2 atau 3 kali.....
Pesanan Semasa Mendengar Azan...Kematian itu pasti menjelma. Hanya masa dan waktunya yang tidak kita ketahui. Cuba kita amati. Mengapa kebanyakan orang yang nazak, hampir ajal tidak dapat berkata apa-apa.... lidahnya kelu, keras dan hanya mimik mukanya yang menahan kesakitan 'sakaratul maut'.
Diriwayatkan sebuah hadis yg bermaksud: "Hendaklah kamu mendiamkan diri ketika azan, jika tidak Allah akan kelukan lidahnya ketika maut menghampirinya. "Ini jelas menunjukkan, kita disarankan agar mendiamkan diri, jangan berkata apa-apa pun semasa azan
berkumandang.
Sebagai orang beragama Islam kita wajib menghormati azan. Banyak fadhilatnya. Jika lagu kebangsaan kita diajar agar berdiri tegak dan diamkan diri. Mengapa ketika azan kita tidak boleh mendiamkan diri? Lantas sesiapa yang berkata-kata ketika azan, Allah akan kelukan lidahnya ketika nazak .
Kita takut dengan kelunya lidah kita semasa ajal hampir tiba maka kita tidak dapat mengucap kalimah "Lailahaillallah. ." yang mana sesiapa yang dapat mengucapkan kalimah ini ketika nyawanya akan dicabut Allah dgn izinNya menjanjikan syurga untuk mereka.
Dari itu marilah kita sama-sama menghormati azan dan mohon kepada Allah supaya lidah ini tidak kelu semasa nyawa kita sedang dicabut.
"Ya Allah! Anugerahkanlah kematian kami dengan kematian yang baik lagi mulia, lancarkan lidah kami mengucap kalimah "Lailahaillallah. ." semasa sakaratul maut menghampiri kami.
Amin..amin.. amin Yarobbal a'lamin.."
WASIAT NABI MUHAMMAD S.A.W. kepada SAIDINA ALI R.A.;
Wahai Ali, bagi orang 'ALIM itu ada 3 tanda2nya:
1) Jujur dalam berkata-kata.
2) Menjauhi segala yg haram.
3) Merendahkan diri.
Wahai Ali, bagi orang yg JUJUR itu ada 3 tanda2nya:
1) Merahsiakan ibadahnya.
2) Merahsiakan sedekahnya.
3) Merahsiakan ujian yg menimpanya.
Wahai Ali, bagi org yg TAKWA itu ada 3 tanda2nya:
1) Takut berlaku dusta dan keji.
2) Menjauhi kejahatan.
3) Memohon yang halal kerana takut jatuh dalam keharaman.
Wahai Ali, bagi AHLI IBADAH itu ada 3 tanda2nya:
1) Mengawasi dirinya.
2) Menghisab dirinya.
3) Memperbanyakkan ibadah kepada Allah s.w.t.
Wang RM50 kelihatan begitu besar bila dibawa ke kotak derma masjid,
tetapi begitu kecil bila kita bawa ke supermarket. 45 minit terasa terlalu
lama untuk berzikir tapi betapa pendeknya waktu itu untuk pertandingan
bola sepak. Semua insan ingin memasuki syurga tetapi tidak ramai yang
berfikir dan berbicara tentang bagaimana untuk memasukinya.
Kepada sahabatku yang dimuliai & dihormati...
Kita boleh mengirimkan ribuan 'jokes' dan ' surat berantai' melalui
e-mail mahupun edit/mengedit dan lain-lain..tetapi bila mengirimkan yang berkaitan dengan ibadah seringkali berfikir 2 atau 3 kali.....
Labels:
Sembahyang
Bersahur Cara Rasulullah
oleh Mohd Yaakub Mohd YunuS
SUMBER:AL-KHAADEM
Rasulullah s.a.w amat menganjurkan umatnya agar bersahur kerana terdapat keberkatan pada waktu itu. Sabda baginda s.a.w:
“Bersahurlah kamu semua kerana sesungguhnya pada waktu makan sahur itu terdapat keberkatan.” - Hadis riwayat al-Bukhari no: 1923.
Maksud kerberkatan di sini ialah wujudnya ganjaran serta pahala yang besar di dalam ibadah sahur tersebut. Menurut al-Hafiz Ibn Hajar al-’Asqalani r.h: “Keberkatan sahur itu diperolehi melalui beberapa segi, iaitu mengikuti sunnah, menyelisihi ahli kitab,menambah kekuatan dan semangat untuk beribadah, menghindari tabiat buruk yang timbul akibat lapar, menjadi sebab untuk bersedekah kepada orang yang meminta saat itu, menjadi sebab untuk berzikir dan berdoa pada waktu yang mustajab dan memberi kesempatan untuk berniat bagi mereka yang belum sempat berniat puasa sebelum tidur.” – Rujuk Fathul Baari, Jil.11, ms. 120.
Antara hikmah disyariatkan bersahur adalah untuk membezakan antara ibadah puasa orang Islam dengan ibadah puasa orang Yahudi dan Kristian (ahli kitab).
Sabda Rasulullah s.a.w:
“Pemisah (yang membezakan) antara puasa kita dan puasa ahli kitab ialah makan sahur.” - Hadis riwayat al-Tirmizi.no: 643
Ibadah sahur adalah ibadah yang begitu agung sehinggakan Allah melimpahkan rahmat dan malaikat-Nya memohon keampunan bagi orang-orang yang makan sahur. Oleh itu, Nabi s.a.w amat menitik beratkan umatnya untuk bersahur walaupun dengan hanya meminum seteguk air. Sabda baginda s.a.w :
“Makan sahur ada keberkatan. Oleh itu, janganlah kamu meninggalkannya meskipun salah seorang antara kamu hanya meminum seteguk air. Sesungguhnya Allah dan malaikat-Nya berselawat ke atas orang-orang yang makan sahur.” -
Hadis riwayat Ahmad. no: 10664.
Sebenarnya, kita dibenarkan bersahur sehingga fajar terbit, iaitu sehingga azan solat Subuh dilaungkan. Sabda Rasulullah s.a.w:
“Kamu semua boleh makan dan minum sehingga Ibn Ummi Maktum melaungkan azan kerana sesungguhnya dia tidak akan melaungkan azan (melainkan) hingga fajar sodiq benar-benar telah terbit.” - Hadis riwayat al-Bukhari, no: 1919.
Hadis ini secara tidak langsung membantah pendapat sesetengah pihak yang tidak membenarkan makan dan minum apabila telah masuk waktu imsak. Apatah lagi Allah sendiri telah menegaskan bahawa dibenarkan makan dan minum sehingga terbit fajar, iaitu apabila azan Subuh dilaungkan. Firman Allah S.W.T:
“Makanlah serta minumlah sehingga nyata kepada kamu benang putih (cahaya siang) dari benang hitam kegelapan malam), iaitu waktu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sehingga waktu malam (maghrib).” - Surah al-Baqarah:187
Adalah disunnahkan juga untuk dilewatkan sahur sehingga hampir terbit fajar. Sahal bin Sa’ad r.a berkata:
“Aku makan sahur bersama keluargaku, kemudian akupun tergesa-gesa untuk mendapatkan sujud bersama Rasulullah s.a.w.” - Hadis riwayat al-Bukhari, no:1920.
Qadi Iyadh r.h berkata: “Tujuan Sahal terburu-buru makan sahur adalah kerana waktunya sangat dekat dengan terbitnya fajar.” - Dinukil dari Fathul Baari, jil. 11,ms. 114.
Waktu yang terbaik untuk makan sahur adalah lebih kurang sama dengan kadar waktu seseorang membaca 50 ayat al-Quran iaitu kira-kira 10 hingga 20 minit sebelum azan solat subuh dikumandangkan. Menurut Anas r.a, Zaid bin Thabit r.a berkata:
“Kami makan sahur bersama Nabi s.a.w , kemudian baginda berdiri untuk solat. Aku berkata: Berapa lama antara azan dan sahur?” Beliau menjawab: “Kirakira (membaca) lima puluh ayat.” - Hadis riwayat al-Bukhari no: 1921.
Hadis ini telah digunakan oleh mereka yang berpendapat bahawa waktu imsak itu adalah sepuluh minit sebelum terbit fajar. Apabila masuk waktu imsak maka seseorang tidak lagi diperbolehkan makan dan minum. Namun tafsiran yang benar terhadap hadis tersebut adalah Rasulullah s.a.w langsung mendirikan solat subuh setelah baginda makan sahur. Kadar membaca 50 ayat al-Quran antara azan subuh dan sahur bukan waktu imsak seperti yang disangka oleh mereka, tetapi ia adalah kadar waktu Nabi s.a.w memulakan dan mengakhirkan sahur baginda.
Antara hikmah mengakhirkan sahur adalah:
1. Sekiranya seseorang bangun awal untuk sahur, tentu sekali setelah selesai bersahur dia akan kembali ke tempat tidur. Hal ini memungkinkan seseorang itu meninggalkan solat Subuh.
2. Mengakhirkan sahur juga boleh menambahkan kekuatan bagi orang yang berpuasa. Sekiranya seseorang bersahur terlalu awal maka ia akan menyebabkan seseorang itu cepat merasa lapar, dahaga dan keletihan pada siang harinya.
SUMBER:AL-KHAADEM
Rasulullah s.a.w amat menganjurkan umatnya agar bersahur kerana terdapat keberkatan pada waktu itu. Sabda baginda s.a.w:
“Bersahurlah kamu semua kerana sesungguhnya pada waktu makan sahur itu terdapat keberkatan.” - Hadis riwayat al-Bukhari no: 1923.
Maksud kerberkatan di sini ialah wujudnya ganjaran serta pahala yang besar di dalam ibadah sahur tersebut. Menurut al-Hafiz Ibn Hajar al-’Asqalani r.h: “Keberkatan sahur itu diperolehi melalui beberapa segi, iaitu mengikuti sunnah, menyelisihi ahli kitab,menambah kekuatan dan semangat untuk beribadah, menghindari tabiat buruk yang timbul akibat lapar, menjadi sebab untuk bersedekah kepada orang yang meminta saat itu, menjadi sebab untuk berzikir dan berdoa pada waktu yang mustajab dan memberi kesempatan untuk berniat bagi mereka yang belum sempat berniat puasa sebelum tidur.” – Rujuk Fathul Baari, Jil.11, ms. 120.
Antara hikmah disyariatkan bersahur adalah untuk membezakan antara ibadah puasa orang Islam dengan ibadah puasa orang Yahudi dan Kristian (ahli kitab).
Sabda Rasulullah s.a.w:
“Pemisah (yang membezakan) antara puasa kita dan puasa ahli kitab ialah makan sahur.” - Hadis riwayat al-Tirmizi.no: 643
Ibadah sahur adalah ibadah yang begitu agung sehinggakan Allah melimpahkan rahmat dan malaikat-Nya memohon keampunan bagi orang-orang yang makan sahur. Oleh itu, Nabi s.a.w amat menitik beratkan umatnya untuk bersahur walaupun dengan hanya meminum seteguk air. Sabda baginda s.a.w :
“Makan sahur ada keberkatan. Oleh itu, janganlah kamu meninggalkannya meskipun salah seorang antara kamu hanya meminum seteguk air. Sesungguhnya Allah dan malaikat-Nya berselawat ke atas orang-orang yang makan sahur.” -
Hadis riwayat Ahmad. no: 10664.
Sebenarnya, kita dibenarkan bersahur sehingga fajar terbit, iaitu sehingga azan solat Subuh dilaungkan. Sabda Rasulullah s.a.w:
“Kamu semua boleh makan dan minum sehingga Ibn Ummi Maktum melaungkan azan kerana sesungguhnya dia tidak akan melaungkan azan (melainkan) hingga fajar sodiq benar-benar telah terbit.” - Hadis riwayat al-Bukhari, no: 1919.
Hadis ini secara tidak langsung membantah pendapat sesetengah pihak yang tidak membenarkan makan dan minum apabila telah masuk waktu imsak. Apatah lagi Allah sendiri telah menegaskan bahawa dibenarkan makan dan minum sehingga terbit fajar, iaitu apabila azan Subuh dilaungkan. Firman Allah S.W.T:
“Makanlah serta minumlah sehingga nyata kepada kamu benang putih (cahaya siang) dari benang hitam kegelapan malam), iaitu waktu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sehingga waktu malam (maghrib).” - Surah al-Baqarah:187
Adalah disunnahkan juga untuk dilewatkan sahur sehingga hampir terbit fajar. Sahal bin Sa’ad r.a berkata:
“Aku makan sahur bersama keluargaku, kemudian akupun tergesa-gesa untuk mendapatkan sujud bersama Rasulullah s.a.w.” - Hadis riwayat al-Bukhari, no:1920.
Qadi Iyadh r.h berkata: “Tujuan Sahal terburu-buru makan sahur adalah kerana waktunya sangat dekat dengan terbitnya fajar.” - Dinukil dari Fathul Baari, jil. 11,ms. 114.
Waktu yang terbaik untuk makan sahur adalah lebih kurang sama dengan kadar waktu seseorang membaca 50 ayat al-Quran iaitu kira-kira 10 hingga 20 minit sebelum azan solat subuh dikumandangkan. Menurut Anas r.a, Zaid bin Thabit r.a berkata:
“Kami makan sahur bersama Nabi s.a.w , kemudian baginda berdiri untuk solat. Aku berkata: Berapa lama antara azan dan sahur?” Beliau menjawab: “Kirakira (membaca) lima puluh ayat.” - Hadis riwayat al-Bukhari no: 1921.
Hadis ini telah digunakan oleh mereka yang berpendapat bahawa waktu imsak itu adalah sepuluh minit sebelum terbit fajar. Apabila masuk waktu imsak maka seseorang tidak lagi diperbolehkan makan dan minum. Namun tafsiran yang benar terhadap hadis tersebut adalah Rasulullah s.a.w langsung mendirikan solat subuh setelah baginda makan sahur. Kadar membaca 50 ayat al-Quran antara azan subuh dan sahur bukan waktu imsak seperti yang disangka oleh mereka, tetapi ia adalah kadar waktu Nabi s.a.w memulakan dan mengakhirkan sahur baginda.
Antara hikmah mengakhirkan sahur adalah:
1. Sekiranya seseorang bangun awal untuk sahur, tentu sekali setelah selesai bersahur dia akan kembali ke tempat tidur. Hal ini memungkinkan seseorang itu meninggalkan solat Subuh.
2. Mengakhirkan sahur juga boleh menambahkan kekuatan bagi orang yang berpuasa. Sekiranya seseorang bersahur terlalu awal maka ia akan menyebabkan seseorang itu cepat merasa lapar, dahaga dan keletihan pada siang harinya.
Labels:
Bulan Ramadhan
Malaikat berdoa untuk orang yang bersedekah di bulan Ramadan
Oleh : mohd naim mohd zain
Bulan Ramadan al- Mubarak antara bulan yang digandakan amalannya, pada bulan ini digalakkan bersedekah malah ia merupakan sunnah Nabi SAW dan salah satunya ialah memberi makan untuk orang berbuka puasa.
Bahawa hadis Nabi menyebut:"Sesiapa yang memberi minum orang yang berpuasa maka ia akan diberi minum oleh Allah SWT daripada kolam-Nya di hari akhirat nanti yang mana minumannya tidak akan dahaga sehingga dia masuk syurga."
Hadis nabi menyebut bahawa: "Pagi-pagi lagi Malaikat berdoa kepada orang yang bersedekah supaya ditambahkan hartanya dan orang yang kedekut akan dibinasakan hartanya."
Bersedekah kepada fakir miskin akan mendapat empat kelebihan untuk mengukuhkan dunia ini. Empat perkara tersebut ialah keadilan pemerintah, ulama yang beramal, pemurahnya orang yang hartawan dan doa daripada orang fakir.
Sekurang-kurangnya bersedekah kepada fakir miskin boleh mengurang tahap jurang social, kebanyakan orang fakir ialah terdiri daripada orang yang berjiwa halus dan apabila bersedekah kepada orang fakir mereka akan berasa diri tidak dipinggirkan.
Bulan Ramadan al- Mubarak antara bulan yang digandakan amalannya, pada bulan ini digalakkan bersedekah malah ia merupakan sunnah Nabi SAW dan salah satunya ialah memberi makan untuk orang berbuka puasa.

Bahawa hadis Nabi menyebut:"Sesiapa yang memberi minum orang yang berpuasa maka ia akan diberi minum oleh Allah SWT daripada kolam-Nya di hari akhirat nanti yang mana minumannya tidak akan dahaga sehingga dia masuk syurga."
Hadis nabi menyebut bahawa: "Pagi-pagi lagi Malaikat berdoa kepada orang yang bersedekah supaya ditambahkan hartanya dan orang yang kedekut akan dibinasakan hartanya."
Bersedekah kepada fakir miskin akan mendapat empat kelebihan untuk mengukuhkan dunia ini. Empat perkara tersebut ialah keadilan pemerintah, ulama yang beramal, pemurahnya orang yang hartawan dan doa daripada orang fakir.
Sekurang-kurangnya bersedekah kepada fakir miskin boleh mengurang tahap jurang social, kebanyakan orang fakir ialah terdiri daripada orang yang berjiwa halus dan apabila bersedekah kepada orang fakir mereka akan berasa diri tidak dipinggirkan.
Labels:
Bulan Ramadhan
Mendorong Khyusuk Dalam Solat
Oleh :zaharah ibrahim
Mendorong Khusyuk Dalam Solat AgamaYa Allah..tunjukkan kami jalan yang lurus,iaitu jalan orang-orang yang Engkau beri nikmat kepadanya,bukan jalan yang Engkau murkai,dan bukan pula jalan mereka yang sesat..Tetapkan imanku ya Allah,Untukku terus mencari cintaMu.
Untuk mendapatkan khusyuk dalam sembahyang, (selain sujud sahwi..)
1. Berdoa
Terutamanya hendaklah kita berdoa memohon restu kepada Allah ‘azza wajalla supaya Dia mengurniakan kepada kita khusyuk, taufik hidayah dan ‘inayahnya dalam mengerjakan ibadah sembahyang, di samping kita melaksanakan usaha-usaha dan langkah-langkah berikut:
2. 'Tinggalkan dunia'
Sebelum masuk bertakbiratul ihram, terlebih dahulu kita mestilah mempunyai kesedaran, bahawa kita bersembahyang, kita mengadap dan menyembah Allah yang Maha Besar.
Kosongkan hati dari mengingati urusan-urusan dunia. Ingat bahawa urusan-urusan itu tidak dapat dilakukan sama sekali masa kita sembahyang. Oleh itu, tunggulah selepas selesai sembahyang nanti. Tiada guna difikirkan masa sembahyang, hanya akan merosakkan sembahyang kita.
3. Usaha hati
Hati hendaklah sentiasa mengingati. Hendaklah berusaha dengan bersungguh-sungguh hingga sampai ke maqam Ihsan.
Maqam Ihsan bermaksud beribadat kepada Allah seolah-olah anda melihat-Nya. Walaupun pada hakikatnya anda tidak dapat melihat-Nya (dengan mata kasar), sesungguhnya Allah melihat anda.
4. Tanam Rasa Cinta Pada ALLAH
Tanamkan rasa cinta kasih yang mendalam tanpa berbelah bahagi terhadap Allah. Perasaan ini tidak akan timbul kecuali kita kenal Allah. Bak kata pepatah, tak kenal maka tak cinta.
5. Perasaan takzim kepada ALLAH
Menaruh perasaan takzim (agung, besar, tinggi, suci) kepada Allah yang sedang kita hadap dan sembah.
6.Perasaan al-haibatu wal khauf
Menaruh perasaan al-haibatu wal khauf (gerun, takut, bimbang) kiranya sembahyang kita tidak diterima Allah, bahkan dimurkai-Nya.
Allah berfirman di dalam surah Faatir ayat ke-28 yang bermaksud:
Sesungguhnya yang takut kepada Allah daripada segala hamba-Nya ialah para ulama.
7. Menaruh harapan
Menaruh sepenuh harapan supaya Allah terima sembahyang kita. Ulangkan selalu dalam hati kita sebelum bertakbiratul ihram dengan ucapan para sufi yang bermaksud:
Tuhanku! Engkaulah jua maksud tujuanku, dan keredhaan-Mu jua tuntutanku.
8. Malu pada ALLAH
Berasa malu kepada Allah, takut cacat cela, ada kekurangan, kelalaian yang berlaku dalam sembahyang sama ada daripada segi bacaan, penghayatan pengertian bacaan, perlakuan perbuatan dan kekhusyukan hati terhadap Allah yang sedang kita sembah.
9. Memahami bacaan solat
Memahami dan mengerti bacaan dalam sembahyang, sekurang-kurangnya tahu maksud-maksud dan tujuan-tujuannya.
10. Hindar situasi gangguan
Menghindarkan situasi-situasi dan keadaan-keadaan yang mengganggu serta memalingkan hati dari khusyuk seperti kebisingan, kerunsingan hati, keliaran pandangan mata, lintasan-lintasan hati, keletihan tubuh badan dan lain-lain lagi.
11. Mendengar cerita orang yang khusyuk
Mendengar cerita orang-orang yang khusyuk dalam sembahyang seperti sahabat nabi.
Mendorong Khusyuk Dalam Solat AgamaYa Allah..tunjukkan kami jalan yang lurus,iaitu jalan orang-orang yang Engkau beri nikmat kepadanya,bukan jalan yang Engkau murkai,dan bukan pula jalan mereka yang sesat..Tetapkan imanku ya Allah,Untukku terus mencari cintaMu.
Untuk mendapatkan khusyuk dalam sembahyang, (selain sujud sahwi..)
1. Berdoa
Terutamanya hendaklah kita berdoa memohon restu kepada Allah ‘azza wajalla supaya Dia mengurniakan kepada kita khusyuk, taufik hidayah dan ‘inayahnya dalam mengerjakan ibadah sembahyang, di samping kita melaksanakan usaha-usaha dan langkah-langkah berikut:
2. 'Tinggalkan dunia'
Sebelum masuk bertakbiratul ihram, terlebih dahulu kita mestilah mempunyai kesedaran, bahawa kita bersembahyang, kita mengadap dan menyembah Allah yang Maha Besar.
Kosongkan hati dari mengingati urusan-urusan dunia. Ingat bahawa urusan-urusan itu tidak dapat dilakukan sama sekali masa kita sembahyang. Oleh itu, tunggulah selepas selesai sembahyang nanti. Tiada guna difikirkan masa sembahyang, hanya akan merosakkan sembahyang kita.
3. Usaha hati
Hati hendaklah sentiasa mengingati. Hendaklah berusaha dengan bersungguh-sungguh hingga sampai ke maqam Ihsan.
Maqam Ihsan bermaksud beribadat kepada Allah seolah-olah anda melihat-Nya. Walaupun pada hakikatnya anda tidak dapat melihat-Nya (dengan mata kasar), sesungguhnya Allah melihat anda.
4. Tanam Rasa Cinta Pada ALLAH
Tanamkan rasa cinta kasih yang mendalam tanpa berbelah bahagi terhadap Allah. Perasaan ini tidak akan timbul kecuali kita kenal Allah. Bak kata pepatah, tak kenal maka tak cinta.
5. Perasaan takzim kepada ALLAH
Menaruh perasaan takzim (agung, besar, tinggi, suci) kepada Allah yang sedang kita hadap dan sembah.
6.Perasaan al-haibatu wal khauf
Menaruh perasaan al-haibatu wal khauf (gerun, takut, bimbang) kiranya sembahyang kita tidak diterima Allah, bahkan dimurkai-Nya.
Allah berfirman di dalam surah Faatir ayat ke-28 yang bermaksud:
Sesungguhnya yang takut kepada Allah daripada segala hamba-Nya ialah para ulama.
7. Menaruh harapan
Menaruh sepenuh harapan supaya Allah terima sembahyang kita. Ulangkan selalu dalam hati kita sebelum bertakbiratul ihram dengan ucapan para sufi yang bermaksud:
Tuhanku! Engkaulah jua maksud tujuanku, dan keredhaan-Mu jua tuntutanku.
8. Malu pada ALLAH
Berasa malu kepada Allah, takut cacat cela, ada kekurangan, kelalaian yang berlaku dalam sembahyang sama ada daripada segi bacaan, penghayatan pengertian bacaan, perlakuan perbuatan dan kekhusyukan hati terhadap Allah yang sedang kita sembah.
9. Memahami bacaan solat
Memahami dan mengerti bacaan dalam sembahyang, sekurang-kurangnya tahu maksud-maksud dan tujuan-tujuannya.
10. Hindar situasi gangguan
Menghindarkan situasi-situasi dan keadaan-keadaan yang mengganggu serta memalingkan hati dari khusyuk seperti kebisingan, kerunsingan hati, keliaran pandangan mata, lintasan-lintasan hati, keletihan tubuh badan dan lain-lain lagi.
11. Mendengar cerita orang yang khusyuk
Mendengar cerita orang-orang yang khusyuk dalam sembahyang seperti sahabat nabi.
Labels:
Sembahyang
Berbuka Puasa Mengikut Sunnah
oleh : Mohd Yaakub bin Mohd Yunus
Sumber: Buletin Al-Khadeem
Rasulullah s.a.w telah mengajar umatnya beberapa adab yang perlu diberi perhatian ketika berbuka puasa. Antara adab-adab itu ialah:
a. Membaca doa yang thabit daripada Nabi s.a.w.
Ibn ‘Umar r..a berkata: “Apabila berbuka puasa, Nabi s.a.w akan membaca: Hilanglah
segala kehausan, segala urat-urat telah basah dan semoga tetaplah beroleh pahala.
(Dzahabaz zhoma u wabtallatil ‘uruuqu wa thabatal ajru insyaallah) – Hadis riwayat Abu Dawud, no: 2010.
Abdullah Ibn ‘Umar r.a berkata: “Apabila berbuka puasa bacalah: Ya Allah!
sesungguhnya aku memohon rahmat-Mu yang meliputi segala sesuatu agar Engkau
mengampunkan aku. (Allahumma inni as aluka birahmatikal lati wasi’ta kulla syai in
an taghfirali)” - Hadis riwayat Ibn Majah, no: 1743.
Di samping doa-doa di atas, kita juga boleh berdoa apa sahaja yang dihajati kerana di
antara waktu yang mustajab (makbul) untuk berdoa adalah ketika berbuka puasa. Sabda Rasulullah s.a.w :
“Sesungguhnya doa yang tidak ditolak bagi orang berpuasa itu ialah ketika dia berbuka..”
– Hadis riwayat Ibn Majah, hadis no: 1743.
b. Menyegerakan Berbuka Puasa.
Disunnahkan juga kita menyegerakan berbuka puasa. Waktu paling afdal ialah ketika
matahari mula terbenam atau dilaungkan azan Maghrib. Utamakan berbuka dari sibuk
berzikir, membaca al-Quran atau ibadah lain kerana perintah Nabi s.a..w. Rasulullah s.a.w bersabda:
“Manusia akan sentiasa berada di dalam kebaikan selagi mereka sentiasa menyegerakan berbuka puasa.” – Hadis riwayat al-Bukhari. no: 1957.
Di dalam sebuah hadis qudsi, Allah S.W.T telah berfirman:
“Sebaik-baik hamba-ku menurut pandangan-Ku ialah orang yang menyegerakan berbuka puasa.” - Hadis riwayat al-Tirmizi. no: 636.
c. Berbuka Puasa Dengan Buah Rutab, Tamar Atau Air.
Rutab adalah buah kurma yang masak dan tidak dikeringkan. Ia lembut dan manis. Tamar pula adalah buah kurma yang telah dikeringkan sebagaimana yang banyak terjual di pasaran.
Berbuka puasa dengan buah rutab, tamar atau air merupakan sunnah Nabi s.a.w. Anas bin Malik r.a berkata:
“Rasulullah s.a.w berbuka puasa sebelum solat (Maghrib) dengan rutab. Jika tiada
rutab, baginda akan berbuka dengan tamar dan jika tiada tamar, baginda akan meneguk beberapa teguk air.” - Hadis riwayat Imam al-Tirmizi, no: 632.
d. Bersegera Mengerjakan Solat Maghrib.
Hadis di atas tidak menafikan bahawa Rasulullah s.a.w juga menyegerakan solat
Maghrib setelah berbuka puasa dengan rutab, tamar atau air. Namun, sekiranya makanan malam telah terhidang disunnahkan menjamah makan malam terlebih dahulu walaupun solat telah didirikan. Setelah selesai menikmati hidangan, bersegeralah mengerjakan solat Maghrib. Sabda Rasulullah s.a.w:
“Apabila seseorang dihidangkan makan malam sedangkan solat (jemaah) telah
didirikan, utamakan makan malam. Janganlah seseorang itu tergopoh-gapah menghabiskan makanan itu sehinggalah dia selesai dalam keadaan tenang.” - Hadis riwayat al-Bukhari, no: 674.
Menurut Imam al-Nawawi r.h di dalam kitabnya Syarh Sahih Muslim, jilid 4, muka
surat 208: “Di dalam hadis-hadis tersebut dimakruhkan solat apabila terhidangnya
makanan yang hendak dimakan kerana ia boleh mengganggu hati dan menghilangkan
kesempurnaan khusyuk.”
e. Berbuka Puasa Secara Sederhana.
Firman Allah S.W.T:
“Wahai Bani Adam! Pakailah pakaian kamu yang indah setiap kali kamu ingin ke tempat ibadat (mengerjakan solat) dan makan minumlah serta janganlah kamu melampau. Sesungguhnya Allah tidak suka orang-orang yang melampaui batas.” – Surah al-A’raaf : 31
Perlu diingatkan bahawa janganlah waktu berbuka puasa dijadikan medan untuk
kita melepas geram kerana sehari suntuk tidak menjamah makanan atau minuman.
Sewajarnya, ibadah puasa dijadikan medan untuk melatih jiwa seorang muslim yang
bertakwa lagi penyabar direalisasikan ketika berbuka puasa dengan memakan makanan pada kadar yang tidak berlebihan. Sabda Nabi s.a..w:
“Anak adam itu tidak memenuhi suatu bekas yang lebih buruk daripada perutnya.
Cukuplah bagi anak adam itu beberapa suap yang dapat meluruskan tulang belakangnya (memberi kekuatan kepadanya). Sekiranya tidak mustahail (boleh dilakukan), suaplah satu pertiga untuk makanan, satu pertiga untuk minuman dan satu pertiga untuk pernafasan.”
- Hadis riwayat al-Tirmizi no: 2302.
f. Menjamu Makanan Untuk Berbuka Bagi Orang Berpuasa.
Sesungguhnya Islam menganjurkan umatnya mengadakan majlis berbuka puasa untuk menjamu makan bagi mereka yang berpuasa. Firman Allah S.W.T:
“Mereka juga memberi makan sebarang makanan yang dihajati dan disukainya
kepada orang miskin, anak yatim dan tawanan (sambil berkata dengan lidah atau hati):
Sesungguhnya kami memberi makan kepada kamu semata-mata kerana Allah dan kami langsung tidak inginkan sebarang balasan daripada kamu atau ucapan terima kasih.”-Surah al-Insaan: 8-9.
Menjamu makan untuk berbuka puasa telah dijanjikan dengan ganjaran pahala yang
begitu besar. Semakin ramai jumlah orang yang dijamu makan, semakin tinggilah jumlah gandaan pahalanya. Sabda baginda s.a.w:
“Sesiapa yang menjamu makanan untuk berbuka bagi orang yang berpuasa, pahalanya
sama seperti pahala orang yang berpuasa, iaitu pahala orang yang berpuasa yang tidak
dikurangkan walau sedikit.” - Hadis riwayat al-Tirmizi no: 735.
Sumber: Buletin Al-Khadeem
Rasulullah s.a.w telah mengajar umatnya beberapa adab yang perlu diberi perhatian ketika berbuka puasa. Antara adab-adab itu ialah:
a. Membaca doa yang thabit daripada Nabi s.a.w.
Ibn ‘Umar r..a berkata: “Apabila berbuka puasa, Nabi s.a.w akan membaca: Hilanglah
segala kehausan, segala urat-urat telah basah dan semoga tetaplah beroleh pahala.
(Dzahabaz zhoma u wabtallatil ‘uruuqu wa thabatal ajru insyaallah) – Hadis riwayat Abu Dawud, no: 2010.
Abdullah Ibn ‘Umar r.a berkata: “Apabila berbuka puasa bacalah: Ya Allah!
sesungguhnya aku memohon rahmat-Mu yang meliputi segala sesuatu agar Engkau
mengampunkan aku. (Allahumma inni as aluka birahmatikal lati wasi’ta kulla syai in
an taghfirali)” - Hadis riwayat Ibn Majah, no: 1743.
Di samping doa-doa di atas, kita juga boleh berdoa apa sahaja yang dihajati kerana di
antara waktu yang mustajab (makbul) untuk berdoa adalah ketika berbuka puasa. Sabda Rasulullah s.a.w :
“Sesungguhnya doa yang tidak ditolak bagi orang berpuasa itu ialah ketika dia berbuka..”
– Hadis riwayat Ibn Majah, hadis no: 1743.
b. Menyegerakan Berbuka Puasa.
Disunnahkan juga kita menyegerakan berbuka puasa. Waktu paling afdal ialah ketika
matahari mula terbenam atau dilaungkan azan Maghrib. Utamakan berbuka dari sibuk
berzikir, membaca al-Quran atau ibadah lain kerana perintah Nabi s.a..w. Rasulullah s.a.w bersabda:
“Manusia akan sentiasa berada di dalam kebaikan selagi mereka sentiasa menyegerakan berbuka puasa.” – Hadis riwayat al-Bukhari. no: 1957.
Di dalam sebuah hadis qudsi, Allah S.W.T telah berfirman:
“Sebaik-baik hamba-ku menurut pandangan-Ku ialah orang yang menyegerakan berbuka puasa.” - Hadis riwayat al-Tirmizi. no: 636.
c. Berbuka Puasa Dengan Buah Rutab, Tamar Atau Air.
Rutab adalah buah kurma yang masak dan tidak dikeringkan. Ia lembut dan manis. Tamar pula adalah buah kurma yang telah dikeringkan sebagaimana yang banyak terjual di pasaran.
Berbuka puasa dengan buah rutab, tamar atau air merupakan sunnah Nabi s.a.w. Anas bin Malik r.a berkata:
“Rasulullah s.a.w berbuka puasa sebelum solat (Maghrib) dengan rutab. Jika tiada
rutab, baginda akan berbuka dengan tamar dan jika tiada tamar, baginda akan meneguk beberapa teguk air.” - Hadis riwayat Imam al-Tirmizi, no: 632.
d. Bersegera Mengerjakan Solat Maghrib.
Hadis di atas tidak menafikan bahawa Rasulullah s.a.w juga menyegerakan solat
Maghrib setelah berbuka puasa dengan rutab, tamar atau air. Namun, sekiranya makanan malam telah terhidang disunnahkan menjamah makan malam terlebih dahulu walaupun solat telah didirikan. Setelah selesai menikmati hidangan, bersegeralah mengerjakan solat Maghrib. Sabda Rasulullah s.a.w:
“Apabila seseorang dihidangkan makan malam sedangkan solat (jemaah) telah
didirikan, utamakan makan malam. Janganlah seseorang itu tergopoh-gapah menghabiskan makanan itu sehinggalah dia selesai dalam keadaan tenang.” - Hadis riwayat al-Bukhari, no: 674.
Menurut Imam al-Nawawi r.h di dalam kitabnya Syarh Sahih Muslim, jilid 4, muka
surat 208: “Di dalam hadis-hadis tersebut dimakruhkan solat apabila terhidangnya
makanan yang hendak dimakan kerana ia boleh mengganggu hati dan menghilangkan
kesempurnaan khusyuk.”
e. Berbuka Puasa Secara Sederhana.
Firman Allah S.W.T:
“Wahai Bani Adam! Pakailah pakaian kamu yang indah setiap kali kamu ingin ke tempat ibadat (mengerjakan solat) dan makan minumlah serta janganlah kamu melampau. Sesungguhnya Allah tidak suka orang-orang yang melampaui batas.” – Surah al-A’raaf : 31
Perlu diingatkan bahawa janganlah waktu berbuka puasa dijadikan medan untuk
kita melepas geram kerana sehari suntuk tidak menjamah makanan atau minuman.
Sewajarnya, ibadah puasa dijadikan medan untuk melatih jiwa seorang muslim yang
bertakwa lagi penyabar direalisasikan ketika berbuka puasa dengan memakan makanan pada kadar yang tidak berlebihan. Sabda Nabi s.a..w:
“Anak adam itu tidak memenuhi suatu bekas yang lebih buruk daripada perutnya.
Cukuplah bagi anak adam itu beberapa suap yang dapat meluruskan tulang belakangnya (memberi kekuatan kepadanya). Sekiranya tidak mustahail (boleh dilakukan), suaplah satu pertiga untuk makanan, satu pertiga untuk minuman dan satu pertiga untuk pernafasan.”
- Hadis riwayat al-Tirmizi no: 2302.
f. Menjamu Makanan Untuk Berbuka Bagi Orang Berpuasa.
Sesungguhnya Islam menganjurkan umatnya mengadakan majlis berbuka puasa untuk menjamu makan bagi mereka yang berpuasa. Firman Allah S.W.T:
“Mereka juga memberi makan sebarang makanan yang dihajati dan disukainya
kepada orang miskin, anak yatim dan tawanan (sambil berkata dengan lidah atau hati):
Sesungguhnya kami memberi makan kepada kamu semata-mata kerana Allah dan kami langsung tidak inginkan sebarang balasan daripada kamu atau ucapan terima kasih.”-Surah al-Insaan: 8-9.
Menjamu makan untuk berbuka puasa telah dijanjikan dengan ganjaran pahala yang
begitu besar. Semakin ramai jumlah orang yang dijamu makan, semakin tinggilah jumlah gandaan pahalanya. Sabda baginda s.a.w:
“Sesiapa yang menjamu makanan untuk berbuka bagi orang yang berpuasa, pahalanya
sama seperti pahala orang yang berpuasa, iaitu pahala orang yang berpuasa yang tidak
dikurangkan walau sedikit.” - Hadis riwayat al-Tirmizi no: 735.
Labels:
Bulan Ramadhan
Muhasabah Ramadhan (1)
Ramadhan menjelma lagi. Bagi insan yang telah mengecapi dan merasai nikmat Ramadhan ini, kedatangannya adalah suatu yang amat dinanti. Ramadhan adalah sebuah madrasah yang memberikan tarbiyah untuk manusia meningkatkan ketaqwaan kepada Allah. Hakikatnya, Ramadhan bukan hanya sekali ini saja, tetapi ianya telah muncul silih berganti saban tahun. Bagaimana peredaran malam dan siang, bulan dan matahari, begitulah silih bergantinya bulan-bulan ini. Apabila Ramadhan datang setiap tahun, maka kita juga akan berpuasa setiap tahun. Berpuasa bukanlah sekadar acara rutin tahunan sepertimana kita menyambut hari kemerdekaan. Tetapi ianya merupakan suatu ibadah yang wajib ditunaikan dengan penuh penghayatan dan sepatutnya menatijahkan suatu kesan yang kekal sepanjang zaman.
Ramadhan juga sudah pasti akan melabuhkan tirainya nanti. Namun begitu, ia tidak seharusnya dilupakan begitu sahaja. Ini kerana Ramadhan telah mengajar kita pelbagai erti tentang hakikat insan dan kehidupan. Pemergiannya diganti dengan kehadiran Syawal yang melambangkan kegembiraan dan satu kemenangan. Kehadiran Syawal juga menandakan berakhirnya satu proses pertarbiyahan di madrasah Ramadhan.
Apa pula selepas Ramadhan? Bagaimana pula amalan kita di bulan Syawal, Zulqaedah, Zulhijjah, Muharam, Safar dan bulan-bulan yang lain? Bagaimana juga akhlak kita di bulan-bulan yang lain? Apakah kesannya setelah sebulan kita mendapat latihan pada bulan Ramadhan? Adakah semuanya terhenti apabila tibanya 1 Syawal? Justeru, di depan kita adalah beberapa persoalan yang tidak cukup jika hanya dijawab dengan lisan tanpa dibuktikan dengan tindakan.
Solat berjemaah & imarahkan masjid
Kalau di bulan Ramadhan, kita dapat lihat fenomena kebanjiran manusia di kebanyakan masjid-masjid. Masing-masing dengan penuh semangat berpusu-pusu menuju ke masjid kerana tidak mahu melepaskan peluang solat terawih berjemaah. Kadang-kadang terdapat juga sesetengah masjid dan surau yang terpaksa mendirikan khemah sementara diluar masjid bagi manampung jumlah para jamaah yang begitu ramai. Terlintas juga di benak fikiran Pengerusi Jawatankuasa Masjid dan AJKnya bahawa masjid kita ini perlu diperbesarkan sebab ramai sangat penduduk kariah yang datang. Tempat letak kenderaan juga tidak cukup sampai ada yang terpaksa meletakkan kenderaan masing-masing jauh di bahu-bahu jalan raya. Kadangkala sampai berlaku gangguan lalu lintas.
Cukup indah suasana pada malam-malam Ramadhan ini. Si suami mengajak isteri sambil memimpin anak-anak untuk sama-sama ke masjid bagi menunaikan solat sunat terawih. Tidak kurang juga yang menumpangkan kenderaannya yang besar kepada jiran-jirannya. Sampai di masjid atau surau, masing-masing mengambil kesempatan untuk bersalam-salaman sesama muslim sambil bertanya khabar. Malah ramai juga yang mendapat kenalan baru pada malam-malam Ramadhan ini. Yang lebih lucunya, ada yang baru tahu rupanya mereka tingal di satu taman, satu flet atau kawasan perumahan yang sama. Alangkah harmoninya suasana ini. Tua, muda, miskin dan kaya masing-masing berhimpun di rumah Ilahi dengan satu tujuan yang sama dan niat suci di hati.
Persoalannya, kenapa keadaan ini hanya berlaku pada bulan Ramadhan? Kenapa pada hari-hari lain –kecuali hari Jumaat- dan malam-malam lain fenomena ini tidak dapat dilihat. Malah sesetengah masjid ibarat hidup segan mati tak mahu dek kerana tidak dihidupkan dengan solat jemaah atau terlalu sikit jumlah penduduk yang mengunjunginya. Ada juga masjid-masjid yang dikunci pada siang harinya kecuali hari Jumaat kerana tidak hidupnya amalan solat jemaah Zohor dan Asar di situ. Program-program kuliah pula hanya didengari oleh beberapa orang sahaja yang setia dengan masjid. Itu pun mereka yang telah berumur dan kadang-kadang kurang pendengaran dan penglihatannya. Tiada lagi aktiviti yang boleh mereka lakukan, kecuali menghabiskan saki baki umur tua sambil menanti janji Ilahi yang pasti akan ditemui nanti.
Apakah kita hanya dituntut untuk berjemaah semasa solat terawih sahaja? Bagaimana dengan solat-solat fardhu yang lain? Kalau kita boleh luangkan masa dan berusaha sedaya upaya yang mungkin untuk pergi ke masjid bagi menunaikan solat SUNAT terawih, kenapa hal sedemikian tidak kita lakukan untuk solat-solat FARDHU yang lain pada bulan-bulan yang lain? Apakah Allah swt hanya akan memberi ganjaran pahala untuk mereka yang berjemaah di masjid pada bulan Ramadhan sahaja? Apakah masjid dibina hanya untuk solat terawih pada bulan Ramadhan sahaja? Kalau kita merasa rugi jika terlepas solat terawih kerana fadhilatnya yang banyak, kenapa kita tidak merasa rugi apabila kita tidak solat fardhu yang lain secara berjemaah? Kalau kita begitu mengambil berat dan memberi perhatian kepada amalan sunat ini, sepatutnya perhatian yang lebih lagi patut diberikan kepada amalan yang fardhu. Tidakkah kita pernah mendengar saranan dan pesanan yang diberikan oleh Allah dan juga rasul-Nya tentang kelebihan-kelebihan mereka yang memakmurkan masjid dan solat berjemaah? Cuba renung beberapa pernyataan ini:
Firman Allah swt bermaksud: ((Hanyasanya mereka yang memakmurkan masjid-masjid Allah adalah dari kalangan mereka yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, dan mendirikan solat, menunaikan zakat, dan mereka tidak takut melainkan kepada Allah, maka mudah-mudahan mereka itulah yang akan tergolong dari kalangan mereka yang mendapat petunjuk)). (Al-Taubah: 18)
Justeru, ayuhlah wahai umat Islam sekelian! Mari kita imarahkan rumah-rumah Allah pada setiap masa. Ikatlah hati-hati kita dengan masjid mudahan kita akan mendapat naungan Allah pada hari akhirat yang tiada lagi naungan kecuali naungan Ilahi. Hidupkan kembali masjid dengan solat-solat fardhu berjemaah. Kembalikan semula fungsi dan peranan institusi masjid seperti yang telah ditunjukkan oleh Rasulullah saw dan para sahabat pada era kegemilangan mereka. Ajak dan ajarlah ahli keluarga, sanak saudara dan jiran tetangga kita untuk mencintai dan merindui rumah-rumah Allah dengan memakmurkannya. Jadikan suasana pada malam-malam Ramadhan berlaku juga pada malam-malam yang lain.
Solat fardhu dan sunat
Kita juga dapat melihat kebanyakkan umat Islam mampu dan bersungguh-sungguh menunaikan solat sunat terawih dan witir samada 11 rakaat atau 23 rakaat. Waduh! Walaupun terasa sedikit keletihan, namun digagahkan juga diri, dipujuk juga hati supaya tetap meneruskan solat sunat terawih ini semata-mata mahu merebut pahala sunat yang dijanjikan. Ada juga yang sengaja mencari masjid-masjid yang imamnya membaca satu malam satu juzuk. Walaupun lama, tetapi kepuasan hatinya yang lebih diutama. Sembahyang sunat terawih dan witir ini yang sebanyak 11 atau 23 rakaat ini bukan dilakukan satu dua malam sahaja, tetapi selama sebulan. Kuat sungguh umat Islam kita mengejar pahala sunat. Rupa-rupanya masing-masing berkemampuan untuk mendirikan solat sunat.
Persoalannya, apakah amalan solat sunat hanya dituntut pada bulan Ramadhan sahaja. Apabila berakhirnya Ramadhan, terus kita menjadi lemah dan tidak mampu walaupun untuk menunaikan solat sunat rawatib yang hanya dua rakaat. Kenapa begitu? Kalau solat sunat yang sebanyak 11 atau 23 rakaat itu kita mampu lakukan, kenapa yang hanya 2 rakaat ini kita abaikan. Ya, memang ianya hanya sunat. Tetapi tidak merasa rugikah kita jika kita tidak merebut pahala sunat ini sepertimana kita merasa rugi apabila kita terlepas solat terawih. Atau adakah kita hanya mendengar kelebihan solat sunat terawih sahaja, dan tidak pula pernah diberitahu tentang kelebihan solat sunat rawatib yang lain. Nah! Renungilah wahai insan mukmin, satu daripada fadhilat solat sunat yang akan disebutkan ini dengan harapan kita juga akan terus bersemangat untuk merebut ganjarannya:
Daripada ‘Aisyah ra, Nabi saw bersabda bermaksud: ((Dua rakaat sebelum fajar (solat sunat sebelum Subuh) adalah lebih baik daripada dunia dan segala isinya)). (Riwayat Muslim).
Lebih malang dan menyedihkan lagi, apabila ada juga yang begitu bersungguh-sungguh menunaikan solat terawih pada bulan Ramadhan, tetapi mengabaikan solat fardhu yang lain. Yang sunat dilakukan, yang wajib ditinggalkan. Ada yang berpuasa, tetapi tidak sembahyang. Kenapa mereka berpuasa? Kalau jawapannya kerana puasa itu salah satu daripada rukun Islam yang wajib ditunaikan, apakah mereka lupa solat juga merupakan salah satu daripada rukun Islam, malah merupakan tiang asas agama yang menjadi garis pemisah di antara keimanan dan kekufuran. Ini belum lagi kita persoalkan, kenapa mereka berpuasa, tetapi aurat masih dibuka. Kita dapat lihat anak-anak gadis yang berseluar ketat, berbaju singkat nampak pusat, kadang-kadang berambut coklat, juga turut sama menunaikan kewajipan rukun Islam yang ketiga ini. Malah merekalah di antara golongan yang membanjiri bazar-bazar Ramadhan dan sibuk membeli juadah untuk berbuka puasa. Tidak kurang juga yang keluar berpegangan tangan dengan teman lelaki masing-masing, menuju ke restoran-restoran mewah atau gerai di jalanan dengan tujuan untuk berbuka puasa bersama-sama setelah sehari suntuk menunaikan ibadah puasa yang merupakan kefardhuan agama. Bagi mereka yang meninggalkan solat, membuka aurat dan bercampur lelaki perempuan melebihi had, apakah mereka tidak sedar bahawa mereka sedang melakukan maksiat dalam mereka beribadat? Kalau mereka berpuasa kerana ia wajib, maka ketahuilah sesungguhnya solat juga wajib, menutup aurat juga wajib.
Ramadhan juga sudah pasti akan melabuhkan tirainya nanti. Namun begitu, ia tidak seharusnya dilupakan begitu sahaja. Ini kerana Ramadhan telah mengajar kita pelbagai erti tentang hakikat insan dan kehidupan. Pemergiannya diganti dengan kehadiran Syawal yang melambangkan kegembiraan dan satu kemenangan. Kehadiran Syawal juga menandakan berakhirnya satu proses pertarbiyahan di madrasah Ramadhan.
Apa pula selepas Ramadhan? Bagaimana pula amalan kita di bulan Syawal, Zulqaedah, Zulhijjah, Muharam, Safar dan bulan-bulan yang lain? Bagaimana juga akhlak kita di bulan-bulan yang lain? Apakah kesannya setelah sebulan kita mendapat latihan pada bulan Ramadhan? Adakah semuanya terhenti apabila tibanya 1 Syawal? Justeru, di depan kita adalah beberapa persoalan yang tidak cukup jika hanya dijawab dengan lisan tanpa dibuktikan dengan tindakan.
Solat berjemaah & imarahkan masjid
Kalau di bulan Ramadhan, kita dapat lihat fenomena kebanjiran manusia di kebanyakan masjid-masjid. Masing-masing dengan penuh semangat berpusu-pusu menuju ke masjid kerana tidak mahu melepaskan peluang solat terawih berjemaah. Kadang-kadang terdapat juga sesetengah masjid dan surau yang terpaksa mendirikan khemah sementara diluar masjid bagi manampung jumlah para jamaah yang begitu ramai. Terlintas juga di benak fikiran Pengerusi Jawatankuasa Masjid dan AJKnya bahawa masjid kita ini perlu diperbesarkan sebab ramai sangat penduduk kariah yang datang. Tempat letak kenderaan juga tidak cukup sampai ada yang terpaksa meletakkan kenderaan masing-masing jauh di bahu-bahu jalan raya. Kadangkala sampai berlaku gangguan lalu lintas.
Cukup indah suasana pada malam-malam Ramadhan ini. Si suami mengajak isteri sambil memimpin anak-anak untuk sama-sama ke masjid bagi menunaikan solat sunat terawih. Tidak kurang juga yang menumpangkan kenderaannya yang besar kepada jiran-jirannya. Sampai di masjid atau surau, masing-masing mengambil kesempatan untuk bersalam-salaman sesama muslim sambil bertanya khabar. Malah ramai juga yang mendapat kenalan baru pada malam-malam Ramadhan ini. Yang lebih lucunya, ada yang baru tahu rupanya mereka tingal di satu taman, satu flet atau kawasan perumahan yang sama. Alangkah harmoninya suasana ini. Tua, muda, miskin dan kaya masing-masing berhimpun di rumah Ilahi dengan satu tujuan yang sama dan niat suci di hati.
Persoalannya, kenapa keadaan ini hanya berlaku pada bulan Ramadhan? Kenapa pada hari-hari lain –kecuali hari Jumaat- dan malam-malam lain fenomena ini tidak dapat dilihat. Malah sesetengah masjid ibarat hidup segan mati tak mahu dek kerana tidak dihidupkan dengan solat jemaah atau terlalu sikit jumlah penduduk yang mengunjunginya. Ada juga masjid-masjid yang dikunci pada siang harinya kecuali hari Jumaat kerana tidak hidupnya amalan solat jemaah Zohor dan Asar di situ. Program-program kuliah pula hanya didengari oleh beberapa orang sahaja yang setia dengan masjid. Itu pun mereka yang telah berumur dan kadang-kadang kurang pendengaran dan penglihatannya. Tiada lagi aktiviti yang boleh mereka lakukan, kecuali menghabiskan saki baki umur tua sambil menanti janji Ilahi yang pasti akan ditemui nanti.
Apakah kita hanya dituntut untuk berjemaah semasa solat terawih sahaja? Bagaimana dengan solat-solat fardhu yang lain? Kalau kita boleh luangkan masa dan berusaha sedaya upaya yang mungkin untuk pergi ke masjid bagi menunaikan solat SUNAT terawih, kenapa hal sedemikian tidak kita lakukan untuk solat-solat FARDHU yang lain pada bulan-bulan yang lain? Apakah Allah swt hanya akan memberi ganjaran pahala untuk mereka yang berjemaah di masjid pada bulan Ramadhan sahaja? Apakah masjid dibina hanya untuk solat terawih pada bulan Ramadhan sahaja? Kalau kita merasa rugi jika terlepas solat terawih kerana fadhilatnya yang banyak, kenapa kita tidak merasa rugi apabila kita tidak solat fardhu yang lain secara berjemaah? Kalau kita begitu mengambil berat dan memberi perhatian kepada amalan sunat ini, sepatutnya perhatian yang lebih lagi patut diberikan kepada amalan yang fardhu. Tidakkah kita pernah mendengar saranan dan pesanan yang diberikan oleh Allah dan juga rasul-Nya tentang kelebihan-kelebihan mereka yang memakmurkan masjid dan solat berjemaah? Cuba renung beberapa pernyataan ini:
Firman Allah swt bermaksud: ((Hanyasanya mereka yang memakmurkan masjid-masjid Allah adalah dari kalangan mereka yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, dan mendirikan solat, menunaikan zakat, dan mereka tidak takut melainkan kepada Allah, maka mudah-mudahan mereka itulah yang akan tergolong dari kalangan mereka yang mendapat petunjuk)). (Al-Taubah: 18)
Justeru, ayuhlah wahai umat Islam sekelian! Mari kita imarahkan rumah-rumah Allah pada setiap masa. Ikatlah hati-hati kita dengan masjid mudahan kita akan mendapat naungan Allah pada hari akhirat yang tiada lagi naungan kecuali naungan Ilahi. Hidupkan kembali masjid dengan solat-solat fardhu berjemaah. Kembalikan semula fungsi dan peranan institusi masjid seperti yang telah ditunjukkan oleh Rasulullah saw dan para sahabat pada era kegemilangan mereka. Ajak dan ajarlah ahli keluarga, sanak saudara dan jiran tetangga kita untuk mencintai dan merindui rumah-rumah Allah dengan memakmurkannya. Jadikan suasana pada malam-malam Ramadhan berlaku juga pada malam-malam yang lain.
Solat fardhu dan sunat
Kita juga dapat melihat kebanyakkan umat Islam mampu dan bersungguh-sungguh menunaikan solat sunat terawih dan witir samada 11 rakaat atau 23 rakaat. Waduh! Walaupun terasa sedikit keletihan, namun digagahkan juga diri, dipujuk juga hati supaya tetap meneruskan solat sunat terawih ini semata-mata mahu merebut pahala sunat yang dijanjikan. Ada juga yang sengaja mencari masjid-masjid yang imamnya membaca satu malam satu juzuk. Walaupun lama, tetapi kepuasan hatinya yang lebih diutama. Sembahyang sunat terawih dan witir ini yang sebanyak 11 atau 23 rakaat ini bukan dilakukan satu dua malam sahaja, tetapi selama sebulan. Kuat sungguh umat Islam kita mengejar pahala sunat. Rupa-rupanya masing-masing berkemampuan untuk mendirikan solat sunat.
Persoalannya, apakah amalan solat sunat hanya dituntut pada bulan Ramadhan sahaja. Apabila berakhirnya Ramadhan, terus kita menjadi lemah dan tidak mampu walaupun untuk menunaikan solat sunat rawatib yang hanya dua rakaat. Kenapa begitu? Kalau solat sunat yang sebanyak 11 atau 23 rakaat itu kita mampu lakukan, kenapa yang hanya 2 rakaat ini kita abaikan. Ya, memang ianya hanya sunat. Tetapi tidak merasa rugikah kita jika kita tidak merebut pahala sunat ini sepertimana kita merasa rugi apabila kita terlepas solat terawih. Atau adakah kita hanya mendengar kelebihan solat sunat terawih sahaja, dan tidak pula pernah diberitahu tentang kelebihan solat sunat rawatib yang lain. Nah! Renungilah wahai insan mukmin, satu daripada fadhilat solat sunat yang akan disebutkan ini dengan harapan kita juga akan terus bersemangat untuk merebut ganjarannya:
Daripada ‘Aisyah ra, Nabi saw bersabda bermaksud: ((Dua rakaat sebelum fajar (solat sunat sebelum Subuh) adalah lebih baik daripada dunia dan segala isinya)). (Riwayat Muslim).
Lebih malang dan menyedihkan lagi, apabila ada juga yang begitu bersungguh-sungguh menunaikan solat terawih pada bulan Ramadhan, tetapi mengabaikan solat fardhu yang lain. Yang sunat dilakukan, yang wajib ditinggalkan. Ada yang berpuasa, tetapi tidak sembahyang. Kenapa mereka berpuasa? Kalau jawapannya kerana puasa itu salah satu daripada rukun Islam yang wajib ditunaikan, apakah mereka lupa solat juga merupakan salah satu daripada rukun Islam, malah merupakan tiang asas agama yang menjadi garis pemisah di antara keimanan dan kekufuran. Ini belum lagi kita persoalkan, kenapa mereka berpuasa, tetapi aurat masih dibuka. Kita dapat lihat anak-anak gadis yang berseluar ketat, berbaju singkat nampak pusat, kadang-kadang berambut coklat, juga turut sama menunaikan kewajipan rukun Islam yang ketiga ini. Malah merekalah di antara golongan yang membanjiri bazar-bazar Ramadhan dan sibuk membeli juadah untuk berbuka puasa. Tidak kurang juga yang keluar berpegangan tangan dengan teman lelaki masing-masing, menuju ke restoran-restoran mewah atau gerai di jalanan dengan tujuan untuk berbuka puasa bersama-sama setelah sehari suntuk menunaikan ibadah puasa yang merupakan kefardhuan agama. Bagi mereka yang meninggalkan solat, membuka aurat dan bercampur lelaki perempuan melebihi had, apakah mereka tidak sedar bahawa mereka sedang melakukan maksiat dalam mereka beribadat? Kalau mereka berpuasa kerana ia wajib, maka ketahuilah sesungguhnya solat juga wajib, menutup aurat juga wajib.
Labels:
Bulan Ramadhan
Keistimewaan perempuan..
Oleh : KAMARUL SADILA
1. Doa perempuan lebih makbul daripada lelaki karena sifat penyayang yang lebih kuat daripada lelaki. Ketika ditanya kepada Rasulullah akan hal tersebut, jawab beliau, "Ibu lebih penyayang daripada bapa dan doa orang yang penyayang tidak akan sia-sia".
2. Apabila seseorang perempuan mengandung janin dalam rahim nya, maka beristighfarlah para malaikat untuknya. Allah mencatatkan bagi nya setiap hari dengan 1000 kebajikan dan menghapus kan dari nya 1000 kejahatan.
3. Apabila seseorang perempuan mulai sakit hendak bersalin, maka Allah mencatat kan bagi nya pahala orang yang berjihad pada jalan Allah.
4. Apabila seseorang perempuan melahir kan anak, keluar lah dia dari dosa-dosa seperti keadaan ibu nya melahirkan nya.
5. Apabila telah lahir anak lalu disusui, maka bagi ibu itu setiap satu tegukan daripada susu nya diberi satu kebajikan.
6. Apabila semalaman ibu tidak tidur dan memelihara anak nya yang sakit, maka Allah memberi nya pahala seperti memerdekakan 70 hamba dengan ikhlas untuk membela agama Allah.
7. Barang siapa yang menggembira kan anak perempuan nya, darjat nya seumpama orang yang sentiasa menangis karena takutkan Allah dan orang yang takut kan Allah, akan diharam kan api neraka ke atas tubuhnya.
8. Barang siapa membawa hadiah, (baik makanan dari pasar ke rumah lalu diberikan kepada keluarga nya, maka pahala nya seperti bersedekah. Hendak lah mendahulu kan anak perempuan daripada anak lelaki. Maka barang siapa yang menyuka kan anak perempuan seolah-olah dia memerdeka kan anak Nabi
Ismail.
9. Tiap perempuan yang menolong suami nya dalam urusan agama, maka Allah memasuk kan dia ke dalam syurga lebih dahulu daripada suami nya (10,000 tahun).
10. Wanita yang solehah itu lebih baik daripada 1,000 lelaki yang soleh.
11. Perempuan apabila sembahyang lima waktu, puasa bulan Ramadhan, memelihara kehormatan nya serta taat akan suami nya, masuk lah dia dari pintu syurga mana sahaja yang dikehendaki.
12. Aisyah berkata, "Aku bertanya kepada Rasulullah, siapa kah yang lebih besar hak nya terhadap wanita? Jawab rasulullah, "Suami nya. "Siapa pula berhak terhadap lelaki?" Jawab Rasulullah, "Ibu nya".
13. Apabila memanggil akan engkau dua orang ibu bapa mu, maka jawab lah panggilan ibu mu dahulu.
14. Wanita yang taat akan suami nya, semua ikan- ikan di laut, burung di udara, malaikat di langit, matahari dan bulan semua beristighfar bagi nya selama mana dia taat kepada suami nya serta menjaga sembahyang dan puasanya.
15. Wanita yang taat berkhidmat kepada suami nya akan tertutup pintu-pintu neraka dan terbuka pintu-pintu syurga. Masuklah dari mana-mana pintu yang dia kehendaki dengan tidak dihisab.
16. Syurga itu di bawah tapak kaki ibu.
17. Wanita yang tinggal bersama anak-anak nya akan tinggal bersama aku (Nabi s.a.w) di dalam syurga.
18. Barangsiapa mempunyai tiga anak perempuan atau tiga saudara perempuan atau dua anak perempuan atau dua saudara perempuan lalu dia bersikap ihsan dalam pergaulan dengan mereka dan mendidik mereka dengan penuh rasa takwa serta bertanggung jawab, maka baginya syurga.
19. Daripada Aisyah r.a. Barang siapa yang diuji dengan sesuatu daripada anak-anak perempuan lalu dia berbuat baik kepada mereka, maka mereka akan menjadi penghalang bagi nya dari api neraka.
1. Doa perempuan lebih makbul daripada lelaki karena sifat penyayang yang lebih kuat daripada lelaki. Ketika ditanya kepada Rasulullah akan hal tersebut, jawab beliau, "Ibu lebih penyayang daripada bapa dan doa orang yang penyayang tidak akan sia-sia".
2. Apabila seseorang perempuan mengandung janin dalam rahim nya, maka beristighfarlah para malaikat untuknya. Allah mencatatkan bagi nya setiap hari dengan 1000 kebajikan dan menghapus kan dari nya 1000 kejahatan.
3. Apabila seseorang perempuan mulai sakit hendak bersalin, maka Allah mencatat kan bagi nya pahala orang yang berjihad pada jalan Allah.
4. Apabila seseorang perempuan melahir kan anak, keluar lah dia dari dosa-dosa seperti keadaan ibu nya melahirkan nya.
5. Apabila telah lahir anak lalu disusui, maka bagi ibu itu setiap satu tegukan daripada susu nya diberi satu kebajikan.
6. Apabila semalaman ibu tidak tidur dan memelihara anak nya yang sakit, maka Allah memberi nya pahala seperti memerdekakan 70 hamba dengan ikhlas untuk membela agama Allah.
7. Barang siapa yang menggembira kan anak perempuan nya, darjat nya seumpama orang yang sentiasa menangis karena takutkan Allah dan orang yang takut kan Allah, akan diharam kan api neraka ke atas tubuhnya.
8. Barang siapa membawa hadiah, (baik makanan dari pasar ke rumah lalu diberikan kepada keluarga nya, maka pahala nya seperti bersedekah. Hendak lah mendahulu kan anak perempuan daripada anak lelaki. Maka barang siapa yang menyuka kan anak perempuan seolah-olah dia memerdeka kan anak Nabi
Ismail.
9. Tiap perempuan yang menolong suami nya dalam urusan agama, maka Allah memasuk kan dia ke dalam syurga lebih dahulu daripada suami nya (10,000 tahun).
10. Wanita yang solehah itu lebih baik daripada 1,000 lelaki yang soleh.
11. Perempuan apabila sembahyang lima waktu, puasa bulan Ramadhan, memelihara kehormatan nya serta taat akan suami nya, masuk lah dia dari pintu syurga mana sahaja yang dikehendaki.
12. Aisyah berkata, "Aku bertanya kepada Rasulullah, siapa kah yang lebih besar hak nya terhadap wanita? Jawab rasulullah, "Suami nya. "Siapa pula berhak terhadap lelaki?" Jawab Rasulullah, "Ibu nya".
13. Apabila memanggil akan engkau dua orang ibu bapa mu, maka jawab lah panggilan ibu mu dahulu.
14. Wanita yang taat akan suami nya, semua ikan- ikan di laut, burung di udara, malaikat di langit, matahari dan bulan semua beristighfar bagi nya selama mana dia taat kepada suami nya serta menjaga sembahyang dan puasanya.
15. Wanita yang taat berkhidmat kepada suami nya akan tertutup pintu-pintu neraka dan terbuka pintu-pintu syurga. Masuklah dari mana-mana pintu yang dia kehendaki dengan tidak dihisab.
16. Syurga itu di bawah tapak kaki ibu.
17. Wanita yang tinggal bersama anak-anak nya akan tinggal bersama aku (Nabi s.a.w) di dalam syurga.
18. Barangsiapa mempunyai tiga anak perempuan atau tiga saudara perempuan atau dua anak perempuan atau dua saudara perempuan lalu dia bersikap ihsan dalam pergaulan dengan mereka dan mendidik mereka dengan penuh rasa takwa serta bertanggung jawab, maka baginya syurga.
19. Daripada Aisyah r.a. Barang siapa yang diuji dengan sesuatu daripada anak-anak perempuan lalu dia berbuat baik kepada mereka, maka mereka akan menjadi penghalang bagi nya dari api neraka.
Teknik Bertengkar Secara Positif
Oleh : studioperintis@perintis.com.my
Rasulullah bersabda, "Sesiapa meninggalkan perdebatan, sedang dia berada di pihak yang benar, dibina untuknya sebuah rumah di tengah-tengah syurga."
(Riwayat Anas Bin Malik)
Tidak indahkah dijanjikan dengan sebuah rumah di tengah-tengah syurga? Sekalipun kita di pihak yang benar, namun untuk mengelakkan perbalahan berpanjangan, mengalah sahajalah. Rugikah kalau beralah? Bagi sesetengah orang yang mementingkan diri sendiri mungkin tidak munasabah jika mahu beralah tetapi apa kata kalau saya katakan ‘orang yang beralah akan menang besar kemudiannya?’
Pergaduhan suami isteri akan sentiasa berlaku. Bak lagu P.Ramlee ‘Sedang lidah lagi tergigit’. Anda tidak akan sentiasa boleh berkata ‘ok’ kepada isteri anda begitu juga dia. Setiap kali pergaduhan berlaku, pasti akan ada hati yang akan terluka terutamanya hati orang perempuan yang memang diketahui tidak dapat diramalkan.
Jika pergaduhan itu berpunca daripada sesuatu yang sangat kecil, maka jika kita perbesarkan, maka akan terlihatlah peribadi sebenar seseorang itu. Sungguh akan terlihat betapa hodoh sekali seseorang itu tambahan pula, mulutnya mudah sekali melancangkan kata-kata yang tidak sedap didengar.
Sabda Rasulullah s.a.w:
"Orang mukmin bukan seorang pencela, bukan seorang pengutuk, bukan seorang yang keji dan bukan seorang yang berkata kotor."
(Riwayat Ibnu Mas’ud RA)
Dalam sabda ini, dapatlah kita fahami bahawa orang yang berkata keji bukanlah orang mukmin sebenar. Betapa iman kita dapat disukat dengan perlakuan yang sangat keji ini.
Pernahkah anda melihat pergaduhan suami isteri ini daripada sudut yang positif? Sebenarnya, pergaduhan akan menyebabkan terbentuknya satu penyatuan pelbagai perkara termasuklah cita rasa dan impian pasangan itu. Bagi mencapai tujuan inilah kita sering bertelingkah dengan pasangan untuk mencapai sesuatu yang terbaik. Tidaklah saya maksudkan pergaduhan adalah baik, namun hal ini adalah lebih baik daripada kita berdiam dan tidak berbincang sehingga akhirnya tidak ada penyatuan antara suami dan isteri.
Justeru, pergaduhan menjadi medium kepada pasangan dalam menyatukan kasih sayang. Setiap individu akan melahirkan perasaan tidak puas hati dan sebagainya. Maka, di sini adalah tempat untuk mencurahkan perasaan. Jadi, janganlah memendam perasaan sehingga jiwa kita menjadi tertekan ibarat belon yang akan pecah akibat ditiup dengan angin yang kuat. Jika tidak diluahkan, pasangan anda tidak mungkin akan tahu perkara yang ada dalam hati anda.
Di sini, saya akan kongsikan beberapa tip untuk bertengkar secara positif:
1. Jangan terlampau banyak bercakap – Ketika bertengkar, hati masing-masing pasti dalam keadaan marah. Ketika marah, pasti perkara yang logik sekalipun tidak diterima melainkan masing-masing mahu menegakkan pendapat masing-masing. Jika anda sebagai suami mempunyai hak untuk bercakap sekalipun, kurangkan daripada terlalu menegakkan pendapat anda sendiri. Hal ini akan mencetuskan perasaan tidak puas hati kepada pasangan anda sehingga perlahan-lahan dia akan menjadi bosan dengan anda. Yang perlu anda lakukan adalah dengan memikirkan secara mendalam cara untuk mem-betulkan keadaan.
2. Jangan menyebut kelemahan pasangan – Bukan hanya isteri anda yang mempunyai kelemahan, anda juga ada ke-lemahan sendiri. Jadi, dengan mengungkit kelemahan dia, anda akan turut merangsang pasangan mengungkit kelemahan anda. Lagi pula, anda tidak akan menang dengan hanya mengungkit sebegini tetapi menyebabkan keadaan lebih parah. Jika mahu menegur pasangan, minta dia meluahkan ketidak-puasan hatinya tentang anda dahulu supaya apabila giliran anda nanti, dia tidak akan meninggikan suara.
3. Jangan membalas perbuatannya – Sebagai contoh, pasangan anda bermesra-mesra dengan lelaki sebelah rumah. Anda mahu membuatkan dia sedar bahawa perbuatannya salah. Jangan anda pula bermesra-mesra dengan perempuan lain di hadapan dia. Keadaan ini hanya memberi peluang yang lebih kepada isteri anda untuk menjauhi anda. Akhirnya, anda turut terlibat dalam menjarakkan perhubungan anda sendiri.
4. Jangan cuba mengubah pasangan – Anda dibesarkan dalam keluarga ‘begini’, isteri anda dibesarkan dalam keluarga ‘begitu’. Pastilah terdapat perbezaan antara kedua-duanya. Anda harus memahami bahawa cara dia melihat sesuatu pasti tidak sama dengan pandangan anda.
5. Fokus pada masalah – Jangan meleret-leret sehingga perkara yang bukan masalah akhirnya akan turut menjadi masalah.
6. Jangan tinggikan suara – Semakin tinggi suara kita ketika bergaduh, semakin tinggilah suara pasangan kita nanti. Pergaduhan seperti ini tidak akan menjadikan keadaan semakin baik malah semakin kusut. Cubalah bercakap dengan tenang sehingga isteri anda yang sedang marah akan turut tenang dan seterusnya dapat menyelesaikan masalah dengan lebih cepat.
7. Gunakan panggilan manja – Ada pasangan yang pada masa biasa menggunakan panggilan ‘sayang’ atau ‘manja’ tetapi ketika bergaduh, keadaan akan beralih sebaliknya. Panggilan kasar mengambil alih menyebabkan pasangan anda merasakan dirinya rendah sekali. Jangan emosi sehingga tergamak menggunakan panggilan kasar termasuklah ‘aku’ dan ‘kau’.
8. Elakkan terlalu emosional – Ketika sesi bergaduh ini, pasti pasangan anda akan selalu terlepas mulut. Jadi, jangan ambil perkara yang dikatakannya terlalu serius memandangkan ketika sedang bergaduh, seseorang itu cenderung berkata yang tidak-tidak terhadap lawannya.
9. Gunakan perkataan yang baik-baik – Selain menggunakan panggilan manja, gunakanlah juga perkataan yang tidak menyalahkan. Perkara ini akan menyebabkan masalah akan cepat selesai. Antara contoh perkataan yang boleh anda gunakan ialah, "Abang rasa sayang tak patut buat macam ni," berbanding "Ni semua salah engkaulah!"
10. Jangan bertengkar di depan makanan atau di tempat tidur – Hal ini kerana tempat tersebut sepatutnya tempat kita menjamu selera dan bermesra-mesra sesama sendiri.
11. Dengar luahan isteri – Mungkin sahaja perkara yang disampaikan oleh isteri anda itu dapat menyelesaikan masalah. Jika anda hilang tumpuan ketika ini, bukan sahaja anda akan kehilangan idea yang baik malah anda menggunakan cara sendiri yang belum tentu dapat menyelesaikan masalah anda berdua.
12. Jangan bergaduh di depan anak – Dengan bergaduh di hadapan anak, anda hanya akan membuatkan anak keliru dan mengadili sama ada ibu atau bapa mereka yang berada di pihak benar atau salah. Perkara yang lebih menakutkan akan berlaku jika anak anda menceritakan keadaan anda berdua kepada orang luar. Hal ini akan menjejaskan imej anda sekeluarga.
13. Bersabar – Sekalipun anda lelaki dan anda lebih kuat secara fizikal berbanding dengan isteri anda, jangan sekali-kali anda cuba untuk mengasari isteri anda. Dibimbangi dia juga akan belajar untuk melawan dan membaling segala jenis pinggan mangkuk ketika bergaduh pada masa lain.
14. Say NO to third party – Selagi terdaya menyelesaikan masalah anda sendiri, jangan libatkan orang lain. Campur tangan pihak ketiga kebanyakannya hanya menyulitkan keadaan. Sekiranya perlu, pilihlah orang yang adil untuk menyelesaikan masalah anda.
15. Mengalah tidak bererti kalah – Mengalah ketika saat genting ini tidak menunjukkan anda kalah. Anda hanya perlukan masa untuk membuktikan bahawa tindakan anda sebenarnya betul.
16. Jangan keluar dari rumah sebelum selesai – Selalu menonton drama di TV? Kebanyakannya menunjukkan suami akan segera meninggalkan rumah semasa bergaduh untuk memudahkan cerita. Tindakan ini sebenarnya akan menyebab-kan isteri anda ditinggalkan dalam keadaan keliru. Hal ini menyebabkan dia akan berasa tertekan dan anda perlu ingat bahawa anak-anak akan ditinggalkan bersamanya di rumah. Perempuan yang hilang kewarasan akibat tekanan yang dahsyat akan menyebabkan mereka akan bertindak yang bukan-bukan. Mungkin sahaja dia akan memudaratkan dirinya atau anak-anak anda boleh menjadi mangsa keadaan. Sekiranya anda rasa tidak dapat menahan marah, beritahu isteri anda bahawa anda perlukan sedikit ketenangan dan hal ini lebih menampakkan rasa tanggungjawab anda terhadap permasalahan anda berdua.
17. Luahkan – Selain menjadi pendengar kepada permasalahan isteri, anda turut perlu meluahkan perasaan anda. Tunggu sehingga dia habis berbicara sebelum anda menyambung pendapat anda. Sekiranya anda tidak memberitahu keadaan sebenar anda, belum tentu dia dapat memahami keadaan anda.
18. Pelukan dan kemaafan – Hal inilah detik paling indah dalam pergaduhan. Setelah dirasakan masalah telah selesai, jangan melewatkan detik untuk memeluk pasangan anda seeratnya. Ucapkan perkataan maaf dan berharap agar perkara seperti itu tidak akan berlaku lagi. Keadaan ini akan menyebabkan perhubungan anda selepas itu lebih erat dan mantap dengan satu kesatuan hati yang lebih hebat.
Rasulullah bersabda, "Sesiapa meninggalkan perdebatan, sedang dia berada di pihak yang benar, dibina untuknya sebuah rumah di tengah-tengah syurga."
(Riwayat Anas Bin Malik)
Tidak indahkah dijanjikan dengan sebuah rumah di tengah-tengah syurga? Sekalipun kita di pihak yang benar, namun untuk mengelakkan perbalahan berpanjangan, mengalah sahajalah. Rugikah kalau beralah? Bagi sesetengah orang yang mementingkan diri sendiri mungkin tidak munasabah jika mahu beralah tetapi apa kata kalau saya katakan ‘orang yang beralah akan menang besar kemudiannya?’
Pergaduhan suami isteri akan sentiasa berlaku. Bak lagu P.Ramlee ‘Sedang lidah lagi tergigit’. Anda tidak akan sentiasa boleh berkata ‘ok’ kepada isteri anda begitu juga dia. Setiap kali pergaduhan berlaku, pasti akan ada hati yang akan terluka terutamanya hati orang perempuan yang memang diketahui tidak dapat diramalkan.
Jika pergaduhan itu berpunca daripada sesuatu yang sangat kecil, maka jika kita perbesarkan, maka akan terlihatlah peribadi sebenar seseorang itu. Sungguh akan terlihat betapa hodoh sekali seseorang itu tambahan pula, mulutnya mudah sekali melancangkan kata-kata yang tidak sedap didengar.
Sabda Rasulullah s.a.w:
"Orang mukmin bukan seorang pencela, bukan seorang pengutuk, bukan seorang yang keji dan bukan seorang yang berkata kotor."
(Riwayat Ibnu Mas’ud RA)
Dalam sabda ini, dapatlah kita fahami bahawa orang yang berkata keji bukanlah orang mukmin sebenar. Betapa iman kita dapat disukat dengan perlakuan yang sangat keji ini.
Pernahkah anda melihat pergaduhan suami isteri ini daripada sudut yang positif? Sebenarnya, pergaduhan akan menyebabkan terbentuknya satu penyatuan pelbagai perkara termasuklah cita rasa dan impian pasangan itu. Bagi mencapai tujuan inilah kita sering bertelingkah dengan pasangan untuk mencapai sesuatu yang terbaik. Tidaklah saya maksudkan pergaduhan adalah baik, namun hal ini adalah lebih baik daripada kita berdiam dan tidak berbincang sehingga akhirnya tidak ada penyatuan antara suami dan isteri.
Justeru, pergaduhan menjadi medium kepada pasangan dalam menyatukan kasih sayang. Setiap individu akan melahirkan perasaan tidak puas hati dan sebagainya. Maka, di sini adalah tempat untuk mencurahkan perasaan. Jadi, janganlah memendam perasaan sehingga jiwa kita menjadi tertekan ibarat belon yang akan pecah akibat ditiup dengan angin yang kuat. Jika tidak diluahkan, pasangan anda tidak mungkin akan tahu perkara yang ada dalam hati anda.
Di sini, saya akan kongsikan beberapa tip untuk bertengkar secara positif:
1. Jangan terlampau banyak bercakap – Ketika bertengkar, hati masing-masing pasti dalam keadaan marah. Ketika marah, pasti perkara yang logik sekalipun tidak diterima melainkan masing-masing mahu menegakkan pendapat masing-masing. Jika anda sebagai suami mempunyai hak untuk bercakap sekalipun, kurangkan daripada terlalu menegakkan pendapat anda sendiri. Hal ini akan mencetuskan perasaan tidak puas hati kepada pasangan anda sehingga perlahan-lahan dia akan menjadi bosan dengan anda. Yang perlu anda lakukan adalah dengan memikirkan secara mendalam cara untuk mem-betulkan keadaan.
2. Jangan menyebut kelemahan pasangan – Bukan hanya isteri anda yang mempunyai kelemahan, anda juga ada ke-lemahan sendiri. Jadi, dengan mengungkit kelemahan dia, anda akan turut merangsang pasangan mengungkit kelemahan anda. Lagi pula, anda tidak akan menang dengan hanya mengungkit sebegini tetapi menyebabkan keadaan lebih parah. Jika mahu menegur pasangan, minta dia meluahkan ketidak-puasan hatinya tentang anda dahulu supaya apabila giliran anda nanti, dia tidak akan meninggikan suara.
3. Jangan membalas perbuatannya – Sebagai contoh, pasangan anda bermesra-mesra dengan lelaki sebelah rumah. Anda mahu membuatkan dia sedar bahawa perbuatannya salah. Jangan anda pula bermesra-mesra dengan perempuan lain di hadapan dia. Keadaan ini hanya memberi peluang yang lebih kepada isteri anda untuk menjauhi anda. Akhirnya, anda turut terlibat dalam menjarakkan perhubungan anda sendiri.
4. Jangan cuba mengubah pasangan – Anda dibesarkan dalam keluarga ‘begini’, isteri anda dibesarkan dalam keluarga ‘begitu’. Pastilah terdapat perbezaan antara kedua-duanya. Anda harus memahami bahawa cara dia melihat sesuatu pasti tidak sama dengan pandangan anda.
5. Fokus pada masalah – Jangan meleret-leret sehingga perkara yang bukan masalah akhirnya akan turut menjadi masalah.
6. Jangan tinggikan suara – Semakin tinggi suara kita ketika bergaduh, semakin tinggilah suara pasangan kita nanti. Pergaduhan seperti ini tidak akan menjadikan keadaan semakin baik malah semakin kusut. Cubalah bercakap dengan tenang sehingga isteri anda yang sedang marah akan turut tenang dan seterusnya dapat menyelesaikan masalah dengan lebih cepat.
7. Gunakan panggilan manja – Ada pasangan yang pada masa biasa menggunakan panggilan ‘sayang’ atau ‘manja’ tetapi ketika bergaduh, keadaan akan beralih sebaliknya. Panggilan kasar mengambil alih menyebabkan pasangan anda merasakan dirinya rendah sekali. Jangan emosi sehingga tergamak menggunakan panggilan kasar termasuklah ‘aku’ dan ‘kau’.
8. Elakkan terlalu emosional – Ketika sesi bergaduh ini, pasti pasangan anda akan selalu terlepas mulut. Jadi, jangan ambil perkara yang dikatakannya terlalu serius memandangkan ketika sedang bergaduh, seseorang itu cenderung berkata yang tidak-tidak terhadap lawannya.
9. Gunakan perkataan yang baik-baik – Selain menggunakan panggilan manja, gunakanlah juga perkataan yang tidak menyalahkan. Perkara ini akan menyebabkan masalah akan cepat selesai. Antara contoh perkataan yang boleh anda gunakan ialah, "Abang rasa sayang tak patut buat macam ni," berbanding "Ni semua salah engkaulah!"
10. Jangan bertengkar di depan makanan atau di tempat tidur – Hal ini kerana tempat tersebut sepatutnya tempat kita menjamu selera dan bermesra-mesra sesama sendiri.
11. Dengar luahan isteri – Mungkin sahaja perkara yang disampaikan oleh isteri anda itu dapat menyelesaikan masalah. Jika anda hilang tumpuan ketika ini, bukan sahaja anda akan kehilangan idea yang baik malah anda menggunakan cara sendiri yang belum tentu dapat menyelesaikan masalah anda berdua.
12. Jangan bergaduh di depan anak – Dengan bergaduh di hadapan anak, anda hanya akan membuatkan anak keliru dan mengadili sama ada ibu atau bapa mereka yang berada di pihak benar atau salah. Perkara yang lebih menakutkan akan berlaku jika anak anda menceritakan keadaan anda berdua kepada orang luar. Hal ini akan menjejaskan imej anda sekeluarga.
13. Bersabar – Sekalipun anda lelaki dan anda lebih kuat secara fizikal berbanding dengan isteri anda, jangan sekali-kali anda cuba untuk mengasari isteri anda. Dibimbangi dia juga akan belajar untuk melawan dan membaling segala jenis pinggan mangkuk ketika bergaduh pada masa lain.
14. Say NO to third party – Selagi terdaya menyelesaikan masalah anda sendiri, jangan libatkan orang lain. Campur tangan pihak ketiga kebanyakannya hanya menyulitkan keadaan. Sekiranya perlu, pilihlah orang yang adil untuk menyelesaikan masalah anda.
15. Mengalah tidak bererti kalah – Mengalah ketika saat genting ini tidak menunjukkan anda kalah. Anda hanya perlukan masa untuk membuktikan bahawa tindakan anda sebenarnya betul.
16. Jangan keluar dari rumah sebelum selesai – Selalu menonton drama di TV? Kebanyakannya menunjukkan suami akan segera meninggalkan rumah semasa bergaduh untuk memudahkan cerita. Tindakan ini sebenarnya akan menyebab-kan isteri anda ditinggalkan dalam keadaan keliru. Hal ini menyebabkan dia akan berasa tertekan dan anda perlu ingat bahawa anak-anak akan ditinggalkan bersamanya di rumah. Perempuan yang hilang kewarasan akibat tekanan yang dahsyat akan menyebabkan mereka akan bertindak yang bukan-bukan. Mungkin sahaja dia akan memudaratkan dirinya atau anak-anak anda boleh menjadi mangsa keadaan. Sekiranya anda rasa tidak dapat menahan marah, beritahu isteri anda bahawa anda perlukan sedikit ketenangan dan hal ini lebih menampakkan rasa tanggungjawab anda terhadap permasalahan anda berdua.
17. Luahkan – Selain menjadi pendengar kepada permasalahan isteri, anda turut perlu meluahkan perasaan anda. Tunggu sehingga dia habis berbicara sebelum anda menyambung pendapat anda. Sekiranya anda tidak memberitahu keadaan sebenar anda, belum tentu dia dapat memahami keadaan anda.
18. Pelukan dan kemaafan – Hal inilah detik paling indah dalam pergaduhan. Setelah dirasakan masalah telah selesai, jangan melewatkan detik untuk memeluk pasangan anda seeratnya. Ucapkan perkataan maaf dan berharap agar perkara seperti itu tidak akan berlaku lagi. Keadaan ini akan menyebabkan perhubungan anda selepas itu lebih erat dan mantap dengan satu kesatuan hati yang lebih hebat.
Inilah dia rahsia 13 rukun Solat
Assalamua'laikum wr wb......... ...

Inilah dia rahsia as-solat, sebagai peringatan bagi yang dah tahu atau panduan bagi yang baru tahu......
1 - Niat Sembahyang :
Sebenarnya memeliharakan taubat kita dari dunia dan akhirat.
2 - Berdiri Betul :
Fadilatnya, ketika mati dapat meluaskan tempat kita di dalam kubur.
3 - Takbir-ratul Ihram :
Fadilatnya, sebagai pelita yang menerangi kita di dalam kubur.
4 - Fatihah :
Sebagai pakaian yang indah-indah di dalam kubur.
5 - Ruqu' :
Sebagai tikar kita di dalam kubur.
6 - I'tidal :
Akan memberi minuman air dari telaga al- kautsar ketika didalam kubur.
7 - Sujud :
Memagar kita ketika menyeberangi titian SIRATUL-MUSTAQIM.
8 - Duduk antara 2 Sujud :
Akan menaung panji-panji nabi kita didalam kubur
9 - Duduk antara 2 Sujud (akhir) :
Menjadi kenderaan ketika kita dipadang Mahsyar.
1 0 - Tahhiyat Akhir :
Sebagai penjawab bagi soalan yang dikemukakan oleh Munkar & Nankir di dalam kubur.
11 - Selawat Nabi :
Sebagai pendinding api neraka di dalam kubur.
12 - Salam :
Memelihara kita di dalam kubur.
13 - Tertib :
Akan pertemuan kita dengan Allah S. W.T.
Dari Abdullah bin 'Amr R. A.,
Rasulullah S. A. W. bersabda :
"Senarai di atas adalah salah satu sebab mengapa orang Yahudi / Kafir tidak sukakan angka 13 dan juga Hari Jumaat. Itulah sebab mengapa mereka mencipta cerita yang begitu seram sekali iaitu " FRIDAY the 13th " jika ada di kalangan kamu yang perasan!!!"
Wassalam.
"Sampaikanlah pesanku biarpun satu ayat..."
Sebaik-baik manusia itu adalah mereka yang memberi manafa'at kepada manusia lain...

Inilah dia rahsia as-solat, sebagai peringatan bagi yang dah tahu atau panduan bagi yang baru tahu......
1 - Niat Sembahyang :
Sebenarnya memeliharakan taubat kita dari dunia dan akhirat.
2 - Berdiri Betul :
Fadilatnya, ketika mati dapat meluaskan tempat kita di dalam kubur.
3 - Takbir-ratul Ihram :
Fadilatnya, sebagai pelita yang menerangi kita di dalam kubur.
4 - Fatihah :
Sebagai pakaian yang indah-indah di dalam kubur.
5 - Ruqu' :
Sebagai tikar kita di dalam kubur.
6 - I'tidal :
Akan memberi minuman air dari telaga al- kautsar ketika didalam kubur.
7 - Sujud :
Memagar kita ketika menyeberangi titian SIRATUL-MUSTAQIM.
8 - Duduk antara 2 Sujud :
Akan menaung panji-panji nabi kita didalam kubur
9 - Duduk antara 2 Sujud (akhir) :
Menjadi kenderaan ketika kita dipadang Mahsyar.
1 0 - Tahhiyat Akhir :
Sebagai penjawab bagi soalan yang dikemukakan oleh Munkar & Nankir di dalam kubur.
11 - Selawat Nabi :
Sebagai pendinding api neraka di dalam kubur.
12 - Salam :
Memelihara kita di dalam kubur.
13 - Tertib :
Akan pertemuan kita dengan Allah S. W.T.
Dari Abdullah bin 'Amr R. A.,
Rasulullah S. A. W. bersabda :
"Senarai di atas adalah salah satu sebab mengapa orang Yahudi / Kafir tidak sukakan angka 13 dan juga Hari Jumaat. Itulah sebab mengapa mereka mencipta cerita yang begitu seram sekali iaitu " FRIDAY the 13th " jika ada di kalangan kamu yang perasan!!!"
Wassalam.
"Sampaikanlah pesanku biarpun satu ayat..."
Sebaik-baik manusia itu adalah mereka yang memberi manafa'at kepada manusia lain...
Labels:
Sembahyang
HADITH RAMADHAN: Puasa Penyelamat Dari Api Neraka

Hadith :
Daripada Abu Said al-Khudri r.a. katanya, Rasulullah s.a.w. bersabda:
“Tidak seorang pun daripada hamba Allah yang berpuasa sahari dengan niat kerana Allah, melainkan akan Allah jauhkan mukanya daripada kepanasan api neraka sejauh perjalanan tujuh puluh tahun lamanya.”
(al-Bukhari dan muslim)
Huraian
Setiap orang yang berpuasa dengan niat yang ikhlas kerana Allah,kemudian memelihara puasanya daripada amalan-amalan yang di-tegah, Allah akan membalasnya dengan menjauhkan dirinya dari-pada api neraka sejauh tujuh puluh tahun perjalanan. Sesungguh-nya setiap amalan yang dilakukan dengan bersungguh-sungguh meskipun sedikit tetap ada ganjarannya dan dinilai oleh Allah SWT. Ia menjadi saham yang boleh membantu manusia tersebut di-akhirat kelak.
Daripada Abu Said al-Khudri r.a. katanya, Rasulullah s.a.w. bersabda:
“Tidak seorang pun daripada hamba Allah yang berpuasa sahari dengan niat kerana Allah, melainkan akan Allah jauhkan mukanya daripada kepanasan api neraka sejauh perjalanan tujuh puluh tahun lamanya.”
(al-Bukhari dan muslim)
Huraian
Setiap orang yang berpuasa dengan niat yang ikhlas kerana Allah,kemudian memelihara puasanya daripada amalan-amalan yang di-tegah, Allah akan membalasnya dengan menjauhkan dirinya dari-pada api neraka sejauh tujuh puluh tahun perjalanan. Sesungguh-nya setiap amalan yang dilakukan dengan bersungguh-sungguh meskipun sedikit tetap ada ganjarannya dan dinilai oleh Allah SWT. Ia menjadi saham yang boleh membantu manusia tersebut di-akhirat kelak.
Labels:
Bulan Ramadhan
Subscribe to:
Posts (Atom)